Saat berlalu di keremangan, ada punggung
sebagai tempat merebahnya kepalaku yang beku saat aku benar-benar
menginginkannya menjadi milikku. "Tidak pantas. Asalnya dia bertuhan, tapi
kau masih saja menuhankan dia. Tidak pantas, dan silakan pergi saja." ada
bisikan lain dari perempuan berkepang dua yang menemuiku tengah malam buta di
pembaringan.
Belum lama aku mengenalnya. Dia lelakiku
-anggap saja dia benar-benar menjadi lelakiku- yang belum lama kukenal. Kali
pertama aku mengenalnya lewat lukisan. Potret diriku terpajang memayu di
kamarnya. Itupun karena ada yang memergoki potret bisuku menempel di tembok
kamarnya.
"Ini potretmu Dik, sayu melihat
kupu-kupu yang duduk di jari manismu. Mataku tertancap di tembok kamarnya
karena potretmu."
"Potretku? Darimana dia bisa melukisku
Bang?"
Oh memang Jalang tak pernah menepi dari
pikiranku.
***
. . . Bulir embun menyentuh tulang daun
lembayung. Menetes, menunjam ke batu di bawah tangkup lembayung. 1 bulir
terpecah menjadi anak bulir. Berpisah karena menjatuhkan diri di batu yang
keras. Pipit ramai dengan paruh yang mencicit. Induk menyuapinya dengan lembut,
menaruh ulat di paruhnya lalu menciumi paruh si bungsu. Kelak si bungsu akan
menjadi induk pipit yang tangguh mencari ulat.
Mengamati pagi ini lewat kamar berukuran 3 x
4, membuatku cukup puas dengan suasana sepi sebagai kontemplasi kesendirianku. Bukan
jalang yang kutemui kemarin lantas aku tidak memikirkannya.
Masih saja dia berlarian di otakku dan
sesekali duduk tersenyum meminta aku sekadar untuk memangkunya. Segera saja dia
kubuang ke tempat makanan pipit di seberang jendela kamarku.
Sudah tujuh tahun jendela ini melihat
polahku yang kebingungan. Sama seperti sekarang ini. Masih saja lukisan jalang
yang kudengar kemarin selalu jadi pikiranku.
Topi siapa yang berani menatapku saat aku
benar-benar tidak tahu arah matanya.
Segera saja aku pergi dan mencari lukisan
itu tanpa memikirkan si pemilik topi.
Sudah barang pasti jika aku mencari, sulit
untuk kutemukan dalam kondisi tidak tahu arti lukisan dan jalan mana yang akan
kulalui entahlah, bertemu dengan siapapun aku menunduk tanpa berani bertanya
dimana lukisan itu berada.
Sampai pada sebuah rumah yang tidak
berukuran besar, seperti rumah burung yang kulihat tadi pagi di samping jendela
kamarku.
Depannya kursi seperti kursi taman berjajar
melingkar. Berwarna coklat seperti warna kayu mengkilat. Di samping kursi itu
ada sebuah pohon mangga yang dikelilingi oleh rumput taman yang lemut sekali
ketika kakiku telanjang di atasnya.
Rumah bertembok putih tulang menghadapku.
Aku tidak tahu rumah siapa itu. Entah, ini satu-satunya rumah yang kutahu
menyimpan potretku.
Seorang laki-laki berkumis mengenakan baju
rombeng, celana jeans berwarna
coklat, memakai topi coklat yang berlumuran cat berwarna merah, putih, dan
abu-abu menatap dengan menodongkan kuasnya ke arahku.
“masuk saja, apa yang akan kamu beli?”
Aku kenal suara itu.
Suara yang selama 4 bulan mengajariku apa
kontemplasi sepi yang bisa kamu tulis. Berbulan-bulan aku dulu dijejali
pemikiran sadis mengenai tanganku ketika menulis. Tidak bisa berontak, dan
hanya menuruti apa yang dikatakannya. Itu saja sudah membuatku aman.
Buku adalah sumber utamanya untuk melukis.
Katanya, tulisan di buku itu tak ubahnya garis-garis tebal dan tipis yang
sengaja dibentuk agar orang lain membaca dan memahami apa yang mereka tulis.
Lantas lukisan itu sebagai wujud estetis yang diciptakannya agar orang lain mau
membaca bukunya dan tentu membeli lukisannya.
Aku teringat dia lagi. Yang sudah kulupakan
begitu lama dan kukubur dalam-dalam lulangnya
untuk selama-lamanya. Tapi dia hadir lagi dengan topi warna-warni dikepalanya.
Kumisnya masih tetap tebal.
Tangannya masih memegang kuas.
Aku masih hafal bagaimana tangan itu
menggambar.
“iya, maaf aku datang lagi ke tempatmu ini.”
Mataku belum bosan melihat salah satu potret seorang gadis yang diam dengan
mata sayu menatap kupu di depannya. Umur gadis itu mungkin sekitar 18 tahun.
“Dengan keruduk
yang dia pakai, aku melihat Tuhan ada di punggungnya”. Katanya memegang lukisan
yang ia buat sendiri lantas menatapku. Tatapannya masih sama.
“Matanya masih sama, Tuhan masih ada di
kelopaknya,”.
Bicaranya masih sama. Kangen sudah
menyetubuhiku. Sudah lemas aku dirayunya. Sudah tidak kuat kakiku berdiri.
Aku terduduk. Tetap menatap lukisan yang ada
di depanku.
“Saat
berlalu di keremangan, ada punggung sebagai tempat merebahnya kepalaku yang
beku saat aku benar-benar menginginkannya menjadi milikku. "Tidak pantas.
Asalnya dia bertuhan, tapi kau masih saja menuhankan dia. Tidak pantas, dan
silakan pergi saja." ada bisikan lain dari perempuan berkepang dua yang
menemuiku tengah malam buta di pembaringan 4 bulan yang lalu.”/ dia melihatku
lagi. Aku menunduk lagi.
Yang
kurasakan masih 4 bulan kita tidak bertemu. Wajahmu masih sama saat aku berumur
18 tahun. Tatapanmu masih hangat seperti dulu.
Ternyata
begini rupamu setelah 7 tahun kita tidak bertemu.