Kamis, 15 Mei 2014

DIAM SAJA! LAGI BENGKAK!

Nduk. Sebenarnya Ibu baru tahu kalau kamu itu ada. Ya itu kamu, baru tahu pas kamu teriak-teriak sampai kamu mengembang. entahlah Nduk, Ibu hanya diam saja tahu kamu mengembang segitu sakitnya. baru tahu juga Nduk, kalau kamu itu sensitif. lha wong waktu Ibu bertemu Arjuna, kamu diam saja tidak keluar gitu Nduk. padahal Ibuk sudah lama tidak bertemu dia Nduk. tapi kamu diam saja Nduk. ya sudah Nduk, hanya diam sajalah.
lalu Nduk, saat Ibuk gak bisa minum, Arjuna menyentilmu ya Nduk. kenapa kamu tidak bilang Ibu Nduk? padahal Ibu sudah lama tidak bertemu dengan Arjuna, Nduk. Ya, walaupun lama tidak bertemu, setidaknya Ibuk mau kamu tahu Arjuna itu Ayahmu, Nduk.
kamu keluar lagi ya Nduk? Apa sekarang kamu mengecil?
Ibuk berharap kamu semakin kecil ya Nduk, agar ayahmu mau memasukkanmu di makam manusia pribumi.
Ibuk pamit dulu, Nduk. Hati-hati dengan ayahmu.
Salam Kangen,

Ibuk.

Kamis, 01 Mei 2014

Perempuanku yang Cantik Masa Kini



Untuk bisa berjalan 5 bulan
Untuk apa kaki Ibu yang bersari dari pucuk mahkota tuhan, kalau bukan untuk menggendongku?
Kabarnya, aku bisa bersama kalian saat Ibu menjatuhkan aku dari gendongannya. Kabarnya lagi, tuhan tidak menginginkan kejatuhanku. (karena aku tidak pernah dilahirkan).
Mari kuperkenalkan siapa tuhan dan Ibuku. Sebelumnya aku sudah bilang kalau aku tidak dilahirkan. Tetapi terjatuh dari gendongan. Entah seperti apa saat eter ku masuk ke dalam rohku. Aku lupa dengan peristiwa penting itu. Mungkin tuhan sudah mencuci otakku sampai aku bisa lupa bagaimana aku bisa ada. tuhan adalah nyawa yang ditempati ruhku. (sebenarnya aku tidak tahu betul siapa eter, ruh, dan nyawa itu). Sedang Ibuku hanya altar yang digunakan tuhan sebagai axis mundinya. Kutegaskan lagi HANYA.
Yang kutahu hanya bagaimana Ibuku ada. Mahkota yang dipakai tuhan setiap Ia bangun tidur dan mahkota yang selalu disingkirkannya ketika Ia merasa sangat kantuk. Mahkota itu dari permata dengan jenis safir yang melingkar dan bertatakan ruby. Dilapisi oleh lapis lazuli. Mahkota itu berwarna merah saga. Oh bukan,, sedikit berwarna darah. Tetapi cenderung ke saga. Entahlah,, itu toh bukan mahkotaku. Hanya saja aku ingin pembaca membayangkan apa yang ku tuliskan. Itu saja. Pucuk dari mahkota itu batu zamrud yang membentuk kecubung. Dan dua ujung yang lain membentuk menara istana.
Kabarnya, tuhan mendapatkan mahkota itu dari putrinya yang meninggal saat Ibu lahir di altar.karena kebenciannya dengan Ibu, putrinya yang bernama Biduri itu mencampur toak istana dengan dengan racun serangga di kamarnya. Tapi masih sempatnya dia merekam acara bunuh dirinya dengan sebuah gambar. Gambar itu adalah mahkota yang dipakainya.
Biduri dikenal sebagai gadis periang yang selalu mengikuti langkah tuhan kemanapun pergi. Tuhan selalu mengajaknya berlayar kemanapun Ia pergi. Bidurilah yang selalu setia menemani Tuhan saat ombak menerpa kapal mereka. Tetapi semenjak tuhan menemukan altar di goa Ruci, dekat Samudera Atlantik, aku hanya berkhayal, dia ingin menghidupkan altar itu dengan tangannya. Alhasil, setelah memohon-mohon kepada Biduri agar diperbolehkan memiliki istri, Biduri menyetujui dengan satu syarat. Syaratnya, altar tidak boleh memiliki anak selain Biduri. Konon permintaan Biduri ini sebagai ancaman untuk tuhannya.
Lambat laun, tuhan terlalu bahagia dengan altar barunya. Tuhan tidak tahu dongkol yang disimpan Biduri. Biduri menganggap tuhan sudah melupakan dia. Ujung kedongkolan Biduri saat aku dijatuhkan dari gendongan. Biduri anggap saat itulah janji tuhan kepadanya sudah dikhiananti. Entahlah, kata Ibukku “tidak ada satupun yang menginginkanmu. Masuk saja kembali ke rahimku. Agar aku tenang bersama tuhan.” Entahlah, Ibuk macam apa itu. Sudahlah.
Mengingat-ingat masa-masa lalu-lalu yang terlampau lalu bagiku sudah tidak berguna. Lamunanku di bilik bambu, belakang rumah ini membuyarkan segala kebencianku terhadap ibu. Di tempat ini aku menghabiskan daya nalarku. Dari mana aku berada, untuk siapa aku berada, dan bagaimana caraku untuk berada? Karena aku tahu, menjadi yang tidak pernah dilahirkan itu terlalu naïf sampai-sampai bisa kusebut hina.
Matahari menyingsing. Dia pergi pelan-pelan untuk tidur dan memanggil bulan. Bulan datang melambung, bersama mendung marun. Awak langit bersorai malaikat malam datang memeluk. Bulan jalanan yang kulihat saat ini seperti kenanganku yang hidup pada senja atau malam hari saja. Karena senja menuju malamlah otakku dapat berfungsi mengingat-ingat siapa aku.
Tubuhku terasa ringan melihat bulan jalanan berwarna kuing temaram. Di sepanjang jalan, garis linier di samping dan di depanku menampakkan rhapsodynya. Tuhanku yang sebenarnya amat agung. Rasanya kakiku tidak menapak di jalan berpasir ini. Rasanya mataku tidak mampu menyaring cahaya dari bulan jalanan ini. Terpejam. Sejenak. Lantas tertidur.
Dalam tidurku, aku teringat. Ibuk yang sudah bosan dengan rasa axis mundi dengan tuhan, mencari lelaki lain untuk membuat dia meringis tengah malam. Dengan modal keakraban dengan teman tuhan, Ibuk membuka lahan bagi lelaki yang kurang erangan. (Aku tidak mau menyebut pekerjaan ibukku sebagai pelacur).
Sorot lampu bulan jalanan ini semakin mempertajam ingatanku dengan riasan tebal di muka ibukku. Pewarna bibir merah menyala yang menutup kerutan dibibirnya, hidung yang membentuk garis di bagian tepinya, agar tampak mancung, pipi yang berwarna kemerahan dengan bedak kuning langsat sebagai alasnya, dan alis menjlirit yang ia gambar sendiri sehingga berkesan beringas. Tak lupa ia selalu memakai bulu mata palsu, katanya “lelaki tunduk saat mata mulai menutup. Dan lelaki ada di depan kita saat mata terbuka.”
Cantik. Bagiku. Cantik menutupi kerutan dan usianya.
Tuhan itu seonggok kain yang sudah tidak terpakai. Diletakkan. Dalam keadaan sudah terpotong menjadi beberapa lembar. Kusebut kain perca dengan satu warna. Hitam. Sudah tidak terlihat dan tinggal menunggu keranda menyalaminya. Tanda selesainya kedipan mata.
Dengan baju kekurangan bahan, perempuan yang cantik punyaku berlenggok ke pinggir jalan. Waktu itu dia memakai rok dengan ukuran satu jengkal dari pinggang berwarna biru tua. Pakaiannya seperti anak muda. Kaos berwarna merah marun yang ia modif dengan renda di lehernya sebagai eksen seksi tampak sekali dapat menggoda lelaki. Sepatu berhak tinggi dengan ukuran sekitar 7 cm, tertancap di aspal yang ia lalui. 5 menit dari rumah menuju tepi jalan raya. Aku masih ingat benar saat itu. Karena aku mengikutinya dari belakang dengan mengendap-endap. Sebenanrnya sudah lama aku seperti ini. Sepele. Hanya ingin melihatnya bekerja.
Tetapi malam itu berbeda. Biasanya ia dijemput oleh seorang lelaki saja dengan mobil yang gonta-ganti tiap malam. Tetapi malam itu. Ia dijemput oleh sebuah mobil jip berwarna hitam. Mobil itu tampak lusuh. Biasanya, Ibuk sendiri yang masuk ke mobil dengan member sneyuman dulu lantas masuk dengan kaki kanannya terlebih dulu.
Tapi malam itu, tengah malam itu, ada 3 orang laki-laki yang menjemputnya. Ketika mobil jip itu berhenti di depan Ibuk, dua orang laki-laki keluar dari mobil dengan membentak-bentak “MASUK!! SEGERA MASUK!! MASUK!!”. Kalimat itu terus diulang walaupun Ibuk meronta tidak mau masuk ke dalam mobil.
Aku diam. Tidak bisa berlari. Karena aku terlalu benci.
Bulan jalanan di samping kananku meredup. Sangat gelap. Tetapi kemudian temaram. Untunglah. Seketika itu aku hanya melihat. Kakiku tidak menapak pada tanah. Dan aku tahu yang mematikan bulan jalanan itu tadi adalah Ibukku yang tersenyum. Dia perempuanku yang cantik masa kini. Bukan perempuan buruk masa lalu.