Untuk
bisa berjalan 5 bulan
Untuk
apa kaki Ibu yang bersari dari pucuk mahkota tuhan, kalau bukan untuk
menggendongku?
Kabarnya,
aku bisa bersama kalian saat Ibu menjatuhkan aku dari gendongannya. Kabarnya
lagi, tuhan tidak menginginkan kejatuhanku. (karena aku tidak pernah
dilahirkan).
Mari
kuperkenalkan siapa tuhan dan Ibuku. Sebelumnya aku sudah bilang kalau aku
tidak dilahirkan. Tetapi terjatuh dari gendongan. Entah seperti apa saat eter ku masuk ke dalam rohku. Aku lupa
dengan peristiwa penting itu. Mungkin tuhan sudah mencuci otakku sampai aku bisa
lupa bagaimana aku bisa ada. tuhan adalah nyawa yang ditempati ruhku.
(sebenarnya aku tidak tahu betul siapa eter,
ruh, dan nyawa itu). Sedang Ibuku hanya altar yang digunakan tuhan sebagai axis mundinya. Kutegaskan lagi HANYA.
Yang
kutahu hanya bagaimana Ibuku ada. Mahkota yang dipakai tuhan setiap Ia bangun
tidur dan mahkota yang selalu disingkirkannya ketika Ia merasa sangat kantuk.
Mahkota itu dari permata dengan jenis safir yang melingkar dan bertatakan ruby.
Dilapisi oleh lapis lazuli. Mahkota itu berwarna merah saga. Oh bukan,, sedikit
berwarna darah. Tetapi cenderung ke saga. Entahlah,, itu toh bukan mahkotaku.
Hanya saja aku ingin pembaca membayangkan apa yang ku tuliskan. Itu saja. Pucuk
dari mahkota itu batu zamrud yang membentuk kecubung. Dan dua ujung yang lain
membentuk menara istana.
Kabarnya,
tuhan mendapatkan mahkota itu dari putrinya yang meninggal saat Ibu lahir di
altar.karena kebenciannya dengan Ibu, putrinya yang bernama Biduri itu
mencampur toak istana dengan dengan racun serangga di kamarnya. Tapi masih
sempatnya dia merekam acara bunuh dirinya dengan sebuah gambar. Gambar itu
adalah mahkota yang dipakainya.
Biduri
dikenal sebagai gadis periang yang selalu mengikuti langkah tuhan kemanapun
pergi. Tuhan selalu mengajaknya berlayar kemanapun Ia pergi. Bidurilah yang
selalu setia menemani Tuhan saat ombak menerpa kapal mereka. Tetapi semenjak tuhan
menemukan altar di goa Ruci, dekat Samudera Atlantik, aku hanya berkhayal, dia
ingin menghidupkan altar itu dengan tangannya. Alhasil, setelah memohon-mohon
kepada Biduri agar diperbolehkan memiliki istri, Biduri menyetujui dengan satu
syarat. Syaratnya, altar tidak boleh memiliki anak selain Biduri. Konon
permintaan Biduri ini sebagai ancaman untuk tuhannya.
Lambat
laun, tuhan terlalu bahagia dengan altar barunya. Tuhan tidak tahu dongkol yang
disimpan Biduri. Biduri menganggap tuhan sudah melupakan dia. Ujung kedongkolan
Biduri saat aku dijatuhkan dari gendongan. Biduri anggap saat itulah janji
tuhan kepadanya sudah dikhiananti. Entahlah, kata Ibukku “tidak ada satupun
yang menginginkanmu. Masuk saja kembali ke rahimku. Agar aku tenang bersama
tuhan.” Entahlah, Ibuk macam apa itu. Sudahlah.
Mengingat-ingat
masa-masa lalu-lalu yang terlampau lalu bagiku sudah tidak berguna. Lamunanku
di bilik bambu, belakang rumah ini membuyarkan segala kebencianku terhadap ibu.
Di tempat ini aku menghabiskan daya nalarku. Dari mana aku berada, untuk siapa
aku berada, dan bagaimana caraku untuk berada? Karena aku tahu, menjadi yang
tidak pernah dilahirkan itu terlalu naïf sampai-sampai bisa kusebut hina.
Matahari
menyingsing. Dia pergi pelan-pelan untuk tidur dan memanggil bulan. Bulan
datang melambung, bersama mendung marun. Awak langit bersorai malaikat malam
datang memeluk. Bulan jalanan yang kulihat saat ini seperti kenanganku yang
hidup pada senja atau malam hari saja. Karena senja menuju malamlah otakku
dapat berfungsi mengingat-ingat siapa aku.
Tubuhku
terasa ringan melihat bulan jalanan berwarna kuing temaram. Di sepanjang jalan,
garis linier di samping dan di depanku menampakkan rhapsodynya. Tuhanku yang sebenarnya amat agung. Rasanya kakiku
tidak menapak di jalan berpasir ini. Rasanya mataku tidak mampu menyaring
cahaya dari bulan jalanan ini. Terpejam. Sejenak. Lantas tertidur.
Dalam
tidurku, aku teringat. Ibuk yang sudah bosan dengan rasa axis mundi dengan tuhan, mencari lelaki lain untuk membuat dia
meringis tengah malam. Dengan modal keakraban dengan teman tuhan, Ibuk membuka
lahan bagi lelaki yang kurang erangan.
(Aku tidak mau menyebut pekerjaan ibukku sebagai pelacur).
Sorot
lampu bulan jalanan ini semakin mempertajam ingatanku dengan riasan tebal di
muka ibukku. Pewarna bibir merah menyala yang menutup kerutan dibibirnya,
hidung yang membentuk garis di bagian tepinya, agar tampak mancung, pipi yang
berwarna kemerahan dengan bedak kuning langsat sebagai alasnya, dan alis
menjlirit yang ia gambar sendiri sehingga berkesan beringas. Tak lupa ia selalu
memakai bulu mata palsu, katanya “lelaki tunduk saat mata mulai menutup. Dan
lelaki ada di depan kita saat mata terbuka.”
Cantik.
Bagiku. Cantik menutupi kerutan dan usianya.
Tuhan
itu seonggok kain yang sudah tidak terpakai. Diletakkan. Dalam keadaan sudah
terpotong menjadi beberapa lembar. Kusebut kain perca dengan satu warna. Hitam.
Sudah tidak terlihat dan tinggal menunggu keranda menyalaminya. Tanda
selesainya kedipan mata.
Dengan
baju kekurangan bahan, perempuan yang cantik punyaku berlenggok ke pinggir
jalan. Waktu itu dia memakai rok dengan ukuran satu jengkal dari pinggang
berwarna biru tua. Pakaiannya seperti anak muda. Kaos berwarna merah marun yang
ia modif dengan renda di lehernya sebagai eksen
seksi tampak sekali dapat menggoda lelaki. Sepatu berhak tinggi dengan ukuran
sekitar 7 cm, tertancap di aspal yang ia lalui. 5 menit dari rumah menuju tepi
jalan raya. Aku masih ingat benar saat itu. Karena aku mengikutinya dari
belakang dengan mengendap-endap. Sebenanrnya sudah lama aku seperti ini.
Sepele. Hanya ingin melihatnya bekerja.
Tetapi
malam itu berbeda. Biasanya ia dijemput oleh seorang lelaki saja dengan mobil
yang gonta-ganti tiap malam. Tetapi malam itu. Ia dijemput oleh sebuah mobil jip berwarna hitam. Mobil itu tampak
lusuh. Biasanya, Ibuk sendiri yang masuk ke mobil dengan member sneyuman dulu
lantas masuk dengan kaki kanannya terlebih dulu.
Tapi
malam itu, tengah malam itu, ada 3 orang laki-laki yang menjemputnya. Ketika
mobil jip itu berhenti di depan Ibuk,
dua orang laki-laki keluar dari mobil dengan membentak-bentak “MASUK!! SEGERA
MASUK!! MASUK!!”. Kalimat itu terus diulang walaupun Ibuk meronta tidak mau
masuk ke dalam mobil.
Aku
diam. Tidak bisa berlari. Karena aku terlalu benci.
Bulan
jalanan di samping kananku meredup. Sangat gelap. Tetapi kemudian temaram.
Untunglah. Seketika itu aku hanya melihat. Kakiku tidak menapak pada tanah. Dan
aku tahu yang mematikan bulan jalanan itu tadi adalah Ibukku yang tersenyum.
Dia perempuanku yang cantik masa kini. Bukan perempuan buruk masa lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar