Kamis, 15 Mei 2014

DIAM SAJA! LAGI BENGKAK!

Nduk. Sebenarnya Ibu baru tahu kalau kamu itu ada. Ya itu kamu, baru tahu pas kamu teriak-teriak sampai kamu mengembang. entahlah Nduk, Ibu hanya diam saja tahu kamu mengembang segitu sakitnya. baru tahu juga Nduk, kalau kamu itu sensitif. lha wong waktu Ibu bertemu Arjuna, kamu diam saja tidak keluar gitu Nduk. padahal Ibuk sudah lama tidak bertemu dia Nduk. tapi kamu diam saja Nduk. ya sudah Nduk, hanya diam sajalah.
lalu Nduk, saat Ibuk gak bisa minum, Arjuna menyentilmu ya Nduk. kenapa kamu tidak bilang Ibu Nduk? padahal Ibu sudah lama tidak bertemu dengan Arjuna, Nduk. Ya, walaupun lama tidak bertemu, setidaknya Ibuk mau kamu tahu Arjuna itu Ayahmu, Nduk.
kamu keluar lagi ya Nduk? Apa sekarang kamu mengecil?
Ibuk berharap kamu semakin kecil ya Nduk, agar ayahmu mau memasukkanmu di makam manusia pribumi.
Ibuk pamit dulu, Nduk. Hati-hati dengan ayahmu.
Salam Kangen,

Ibuk.

Kamis, 01 Mei 2014

Perempuanku yang Cantik Masa Kini



Untuk bisa berjalan 5 bulan
Untuk apa kaki Ibu yang bersari dari pucuk mahkota tuhan, kalau bukan untuk menggendongku?
Kabarnya, aku bisa bersama kalian saat Ibu menjatuhkan aku dari gendongannya. Kabarnya lagi, tuhan tidak menginginkan kejatuhanku. (karena aku tidak pernah dilahirkan).
Mari kuperkenalkan siapa tuhan dan Ibuku. Sebelumnya aku sudah bilang kalau aku tidak dilahirkan. Tetapi terjatuh dari gendongan. Entah seperti apa saat eter ku masuk ke dalam rohku. Aku lupa dengan peristiwa penting itu. Mungkin tuhan sudah mencuci otakku sampai aku bisa lupa bagaimana aku bisa ada. tuhan adalah nyawa yang ditempati ruhku. (sebenarnya aku tidak tahu betul siapa eter, ruh, dan nyawa itu). Sedang Ibuku hanya altar yang digunakan tuhan sebagai axis mundinya. Kutegaskan lagi HANYA.
Yang kutahu hanya bagaimana Ibuku ada. Mahkota yang dipakai tuhan setiap Ia bangun tidur dan mahkota yang selalu disingkirkannya ketika Ia merasa sangat kantuk. Mahkota itu dari permata dengan jenis safir yang melingkar dan bertatakan ruby. Dilapisi oleh lapis lazuli. Mahkota itu berwarna merah saga. Oh bukan,, sedikit berwarna darah. Tetapi cenderung ke saga. Entahlah,, itu toh bukan mahkotaku. Hanya saja aku ingin pembaca membayangkan apa yang ku tuliskan. Itu saja. Pucuk dari mahkota itu batu zamrud yang membentuk kecubung. Dan dua ujung yang lain membentuk menara istana.
Kabarnya, tuhan mendapatkan mahkota itu dari putrinya yang meninggal saat Ibu lahir di altar.karena kebenciannya dengan Ibu, putrinya yang bernama Biduri itu mencampur toak istana dengan dengan racun serangga di kamarnya. Tapi masih sempatnya dia merekam acara bunuh dirinya dengan sebuah gambar. Gambar itu adalah mahkota yang dipakainya.
Biduri dikenal sebagai gadis periang yang selalu mengikuti langkah tuhan kemanapun pergi. Tuhan selalu mengajaknya berlayar kemanapun Ia pergi. Bidurilah yang selalu setia menemani Tuhan saat ombak menerpa kapal mereka. Tetapi semenjak tuhan menemukan altar di goa Ruci, dekat Samudera Atlantik, aku hanya berkhayal, dia ingin menghidupkan altar itu dengan tangannya. Alhasil, setelah memohon-mohon kepada Biduri agar diperbolehkan memiliki istri, Biduri menyetujui dengan satu syarat. Syaratnya, altar tidak boleh memiliki anak selain Biduri. Konon permintaan Biduri ini sebagai ancaman untuk tuhannya.
Lambat laun, tuhan terlalu bahagia dengan altar barunya. Tuhan tidak tahu dongkol yang disimpan Biduri. Biduri menganggap tuhan sudah melupakan dia. Ujung kedongkolan Biduri saat aku dijatuhkan dari gendongan. Biduri anggap saat itulah janji tuhan kepadanya sudah dikhiananti. Entahlah, kata Ibukku “tidak ada satupun yang menginginkanmu. Masuk saja kembali ke rahimku. Agar aku tenang bersama tuhan.” Entahlah, Ibuk macam apa itu. Sudahlah.
Mengingat-ingat masa-masa lalu-lalu yang terlampau lalu bagiku sudah tidak berguna. Lamunanku di bilik bambu, belakang rumah ini membuyarkan segala kebencianku terhadap ibu. Di tempat ini aku menghabiskan daya nalarku. Dari mana aku berada, untuk siapa aku berada, dan bagaimana caraku untuk berada? Karena aku tahu, menjadi yang tidak pernah dilahirkan itu terlalu naïf sampai-sampai bisa kusebut hina.
Matahari menyingsing. Dia pergi pelan-pelan untuk tidur dan memanggil bulan. Bulan datang melambung, bersama mendung marun. Awak langit bersorai malaikat malam datang memeluk. Bulan jalanan yang kulihat saat ini seperti kenanganku yang hidup pada senja atau malam hari saja. Karena senja menuju malamlah otakku dapat berfungsi mengingat-ingat siapa aku.
Tubuhku terasa ringan melihat bulan jalanan berwarna kuing temaram. Di sepanjang jalan, garis linier di samping dan di depanku menampakkan rhapsodynya. Tuhanku yang sebenarnya amat agung. Rasanya kakiku tidak menapak di jalan berpasir ini. Rasanya mataku tidak mampu menyaring cahaya dari bulan jalanan ini. Terpejam. Sejenak. Lantas tertidur.
Dalam tidurku, aku teringat. Ibuk yang sudah bosan dengan rasa axis mundi dengan tuhan, mencari lelaki lain untuk membuat dia meringis tengah malam. Dengan modal keakraban dengan teman tuhan, Ibuk membuka lahan bagi lelaki yang kurang erangan. (Aku tidak mau menyebut pekerjaan ibukku sebagai pelacur).
Sorot lampu bulan jalanan ini semakin mempertajam ingatanku dengan riasan tebal di muka ibukku. Pewarna bibir merah menyala yang menutup kerutan dibibirnya, hidung yang membentuk garis di bagian tepinya, agar tampak mancung, pipi yang berwarna kemerahan dengan bedak kuning langsat sebagai alasnya, dan alis menjlirit yang ia gambar sendiri sehingga berkesan beringas. Tak lupa ia selalu memakai bulu mata palsu, katanya “lelaki tunduk saat mata mulai menutup. Dan lelaki ada di depan kita saat mata terbuka.”
Cantik. Bagiku. Cantik menutupi kerutan dan usianya.
Tuhan itu seonggok kain yang sudah tidak terpakai. Diletakkan. Dalam keadaan sudah terpotong menjadi beberapa lembar. Kusebut kain perca dengan satu warna. Hitam. Sudah tidak terlihat dan tinggal menunggu keranda menyalaminya. Tanda selesainya kedipan mata.
Dengan baju kekurangan bahan, perempuan yang cantik punyaku berlenggok ke pinggir jalan. Waktu itu dia memakai rok dengan ukuran satu jengkal dari pinggang berwarna biru tua. Pakaiannya seperti anak muda. Kaos berwarna merah marun yang ia modif dengan renda di lehernya sebagai eksen seksi tampak sekali dapat menggoda lelaki. Sepatu berhak tinggi dengan ukuran sekitar 7 cm, tertancap di aspal yang ia lalui. 5 menit dari rumah menuju tepi jalan raya. Aku masih ingat benar saat itu. Karena aku mengikutinya dari belakang dengan mengendap-endap. Sebenanrnya sudah lama aku seperti ini. Sepele. Hanya ingin melihatnya bekerja.
Tetapi malam itu berbeda. Biasanya ia dijemput oleh seorang lelaki saja dengan mobil yang gonta-ganti tiap malam. Tetapi malam itu. Ia dijemput oleh sebuah mobil jip berwarna hitam. Mobil itu tampak lusuh. Biasanya, Ibuk sendiri yang masuk ke mobil dengan member sneyuman dulu lantas masuk dengan kaki kanannya terlebih dulu.
Tapi malam itu, tengah malam itu, ada 3 orang laki-laki yang menjemputnya. Ketika mobil jip itu berhenti di depan Ibuk, dua orang laki-laki keluar dari mobil dengan membentak-bentak “MASUK!! SEGERA MASUK!! MASUK!!”. Kalimat itu terus diulang walaupun Ibuk meronta tidak mau masuk ke dalam mobil.
Aku diam. Tidak bisa berlari. Karena aku terlalu benci.
Bulan jalanan di samping kananku meredup. Sangat gelap. Tetapi kemudian temaram. Untunglah. Seketika itu aku hanya melihat. Kakiku tidak menapak pada tanah. Dan aku tahu yang mematikan bulan jalanan itu tadi adalah Ibukku yang tersenyum. Dia perempuanku yang cantik masa kini. Bukan perempuan buruk masa lalu.


Rabu, 30 April 2014

Semua Tentang Menunggu Kematian

di depan saya tergeletak sesosok bangkai dengan wujud yang sama sekali tidak dapat saya lihat.
saya bilang kepada Ayah, "Yah, Ayah. Bangkainya cantik Yah. pita di kedua sisi kepalanya menggantung. seperti ususnya yang terburai, Yah. merah Yah. Boleh kubawa pulang? ku kira aku mulai menyukainya. kukira akau mau menemaninya. ku kira aku bersedia berlama-lama di sampingnya. dan ku kira aku akan selalu bersamanya, Yah. boleh tidak?"
hanya tersenyum. sejenak Ayah menepuk kedua pelupuk mataku. "Pandang orang lewat matanya. Jangan lewat mata kamu." (sedikit cuplikan drama kemarin)
entahlah, Ayah. biar semua tentang menunggui kematian, aku hanya berharap bersama dia. bersama bau busuk yang kuanggap kasturi. bersama merah darah yang kubilang merah pelangi, dan bersama getirnya yang ku bilang itu senyum manisnya.

Rabu, 02 April 2014

Tuan Puteri Mengelabuhi Kematian


Naskah drama berjudul “Akhirnya Mati Juga” merupakan naskah drama yang menjadi pemenang juara III dalam lomba naskah drama propinsi Jawa Tengah. Naskah drama karangan Drs. Slamet Setya Budi, syarat dengan pemikiran pembaca yang terlibat dengan pemaknaan tiap kalimat yang diucapkan oleh tokoh.
            Seperti yang saya rasakan sewaktu membaca judul naskah. “Akhirnya mati juga”. Dalam pemikiran saya, judul yang dipakai mengisyaratkan sebuah kelegaan dengan adanya sebuah peristiwa yang memang sudah dinanti-nantikan. Judul yang digunakan pengarang membuat saya mencari tahu mengapa judul itu dipakai dan ada peristiwa apa yang melatar belakangi terbentuknya judul tersebut yang menimbulkan sebuah kelegaan.
            Dalam mengapresiasi drama ini, saya menggunakan pendekatan psikoanalisis pada tokoh bernama “Tuan Puteri”.. Tuan Puteri adalah seorang anak dari tokoh bernama “Tuan Besar” yang menjadi tokoh pemicu klimaks dalam naskah drama ini. Saya tertarik dengan tokoh Tuan Puteri karena melihat kelainan psikologi seorang anak yang menanggapi kematian ayahnya, yaitu Tuan Besar.
            Sebelum masuk ke dalam ranah apresiasi, telaah pustaka yang saya gunakan dari teori psikoanalisis Sigmund Freud, yaitu Id, Ego, dan superego. Pembagian wilayah pikiran menurut Freud ini membantu dia menjelaskan gambaran mental berdasarkan fungsi atau tujuannya. Seperti yang dikatakan Freud, Id merupakan sistem kepribadian yang asli atau yang paling dasar. Sistem yang didalamnya terdapat naluri bawaan. Hanya timbul oleh kesenangan tanpa didasari oleh nilai, etka, dan akhlak tanpa menilai hal tersebut baik atau buruk. Ego berperan sebagai pengendali antara id dan superego, sedangkan superego adalah penentu watak yang ada pada ego.
Dengan kata lain, bagi Freud bagian yang paling primitive dari pikiran adalah das Es atau “sesuatu” atau “itu”, yang hampir selalu diterjemahkan sebagai id. Bagian kedua adalah das Ich atau “saya”, yang diterjemahkan sebagai ego. Dan bagian yang terakhir yaitu das Uber-Ich atau “saya yang lebih” yang disebut superego. Tingkat atau wilayah ini, sudah tentu, tak nyata karena merupakan kontruks hipotesis. Ketiga tingkat tersebut saling berinteraksi sehingga ego bisa masuk menembus berbagai tingkat topografis dan memiliki komponen alam sadar, alam bawah sadar, dan alam tidak sadar. Sementara superego sendiri berada pada alam bawah sadar dan alam tidak sadar, sedangkan id sepenuhnya berada di alam bawah sadar. (Jess Feist, 2013: 31).
Secara singkat, cerita ini tidak terlepas dari psikologi tokoh yang mengalami kelainan. Kelainan yang saya maksud di sini adalah sifat tokoh yang tidak menentu. Pengarang membuat watak tokoh berubah karena keadaan. Seperti yang dilakukan oleh tokoh Marwan. Awalnya tokoh Marwan saya anggap sebagai toh pentagonis, atau tokoh yang memiliki karakter baik. Terlihat dalam cuplikan dialognya dengan Satpam Pujo
Marwan: “Mengapa mereka mendoakan Tuan Besar mati seperti itu? Padahal tuan besar itu orang baik. Selama ini semua kekayaannya tidak dinikmati sendiri. Beliau seorang dermawan. Beliau seorang pahlawan. Beliau tidak segan-segan memberi bantuan kepada semua saudara dan kerabatnya yang kurang mampu”. Ini adalah sebuah bentuk pembelaan seorang pembantu terhadap gunjingan orang lin yang ditujukan kepada majikannya, yaitu Tuan Besar.
Tetapi karena keadaan yang diciptakan oleh pengarang berbanding terbalik dengan keadaan tokoh Marwan pada mulanya, tokoh Marwan memiliki kelainan dalam berpikir yang menurut saya terjadi karena pembentukan kondisi. Secara realis memang tokoh Marwan berbuat demikian karena adanya pengaruh dari alam sadarnya dan keadaan yang diciptakan pengarang. Seperti dalam cuplikan dialog Marwan dengan Tuan Puteri,
Marwan: “(berteriak, suaranya menghentikan paduan suara tadi)
Stoooooop! Berhentiiiiii!.Suasana berubah menjadi hening. Sepi. Tak ada suara sama sekali.
Sekarang akulah penguasa istana ini! Akulah penguasa negeri ini! Akulah Tuan Besar yang akan mengulangi masa-masa kejayaanku ha..ha…ha….Semua harus tunduk perintahku. Kalau ada yang berani membangkang? Kubunuh ! atau kujebloskan dalam penjara bawah tanah! Mau? Termasuk juga ,Kau! (menuding Tuan Puteri).”
Cuplikan dialog ini menjadi salah satu bukti tindakan tokoh Marwan yang tidak sesuai dengan perkataan sebelumnya ketika keadaan yang sulit ada di pihaknya, tetapi dengan keadaan yang dirasanya menguntungkan baginya, Marwan berpikir terbalik dengan tingkah sebelumnya.
Marwan: ”(tertawa terbahak-bahak) Ha…ha…ha…ha….Terserah! Terserah ! Terserah Kalian ! Kalian boleh omong apa saja! Yang penting sekarang akulah penguasa istana ini! Akulah penguasa negeri ini! Akulah Tuan Besar yang akan mengulangi masa-masa kejayaan di masa lampau , menculik, membunuh, menggusur orang-orang miskin, dan menimbun harta ha.. ha…ha….Sekarang kalian pergi dari sini! Menyingkir dari hadapanku! Pergiiiiiiiiiiiiiii!!!”. Penyelesaian konfliks yang dilakuakn oleh tokoh Marwan dibuktikan dengan keinginannya untuk menunjukkan sifat aslinya kepada tokoh lain. dengan artian, sifat semena-mena tokoh Marwan terlihat jelas ketika keadaan berpihak kepadanya.
Dalam apresiasi ini bukan Marwan sebagai tokoh yang saya analisis. Tetapi menurut saya, penggambaran “bagaimana Marwan” memengaruhi pembaca terhadap sikap Tuan Puteri dalam menaggapi keadaan yang awalnya berpihak kepadanya, justru mengelabuhinya.
Tokoh Tuan Puteri muncul kali pertama dengan dialognya “Hidup….Hidup…..hidup….hidup….Ayahnda harus hidup.”,
Ayahnda harus tetap hidup…bertahan Ayahnda. Ayo bertahan Ayahnda ..jangan hiraukan suara orang-orang itu. Mereka orang-orang jahat yang tidak mempunyai perasaan..”,
Bertahanlah Ayahnda…jangan tinggalkan kami dalam keadaan seperti ini. Kalau Ayanda meninggal hidup kami pasti berantakan. Orang-orang jahat itu pasti akan merebut semua harta kita. Mereka pasti akan merebut perusahaan-perusahaan kita. Mereka pasti akan menguras uang kita di bank luar negeri. Dan …. Dan mereka pasti akan memasukkan kita ke dalam penjara… hu..hu…hu..(menangis)”. Ketika mengucapkan dialog tersebut Tuan Puteri dalm kondisi menunggui ayahnya yang sedang terbaring sakit.
Jika dilihat dari id tokoh, pemikiran tokoh Tuan Puteri tepat sebagai seorang anak yang tidak menginginkan ayahnya meninggal. Sampai-sampai timbul ketakutan yang mendalam pada diri Tuan Puteri jika ayahnya meninggal. Berdasarkan superego yang menyatakan “saya”, Tuan Puteri sadar benar dengan harapannya agar ayahnya tetap hidup. Sedangkan egonya sangat tinggi karena tidak berpikir bahwa kematian akan tetap datang menghampiri ayahnya, kapanpun waktunya. Selain itu terlihat pula superego seorang Tuan Puteri saat dia tidak ingin ada yang mengambil hartanya jika kelak ayahnya meninggal. Keinginan Tuan puteri inilah yang memunculkan konfliks di dalam drama ini.
Memang sifat Tuan Puteri dominan pada superego dan ego yang terlalu besar, seperti tingkah Tuan Puteri yang menginginkan sesuatu atau “id” yang jauh dari pikiran umum manusia lain. seperti dalam cuplikan,
Tolong, Dok ! Tolong hidupkan lagi Ayahnda! Aku tidak mau Ayahnda meninggal. Aku ingin ayanda tetap hidup.”.
“Tolong, Dok! Hidupkan kembali Ayahnda. Pokoknya hidupkan kembali Ayahnda! Apapun syaratnya, berapapun biayanya pasti semua akan saya bayar. Yang penting ayahnda hidup. Ayolah ,Dok! (menghiba)”
“Cepat , Dok! Jangan sampai wartawan dan semua orang tahu mengenai hal ini! Jangan sampai mereka tahu kalau Ayahnda sudah meninggal! Mereka pasti akan berpesta pora untuk merayakan kematian Ayahnda ini . Mereka pasti akan menagadakan syukuran tujuh hari tujuh malam untuk merayakan kematian Ayahnda ini. Huh.! Mereka memang orang-orang brengsek yang tidak punya perasaan. Dokter tahu kan apa yang setiap hari mereka doakan untuk Ayahnda? Mati..mati…mati…mati…! Itulah doa mereka !
Uh ..menyebalkan sekali!”
Keinginan Tuan Puteri yang tidak masuk akal ini menunjukkan bahwa dia memiliki sifat keras kepala yaitu mementingkan ego dan dengan pemikirannya dengan dokter yang mengembalikan nyawa ayahnya inilah letak superego nya.
Letak id yang dimaksudkan dalam ego Tuan Puetri adalah harta dan warisan yang ditinggalkan ayahnya. Dengan superegonya, Tuan Puteri takut jika warisan dan harta tersebut jatuh ke tangan orang-orang yang dia anggap sebagai orang brengsek.
Bukan hanya psikologi Tuan Puteri yang jauh dari bayangan seorang anak yang melindungi ayahnya, sifat feminisme tampak pada desakan Tuan Puteri terhadap pembantunya agar menuruti keinginannya. “Ayolah bilang Ya. Ini demi kita semua. Demi kamu, demi anak-anak kamu dan demi semua penghuni istana ini. Kalau rencana ini berhasil tentu semua keperluanmu akan kami cukupi dan biaya masa depan anak-anakmu akan kami tanggung.”.
Bentuk pertentangan yang diperlihatkan sikap keras kepala Tuan Puteri juga terlihat pada “Aku? Kamu berani bicara kasar sama aku? Ingat kamu adalah Mar-wan (dieja persuku kata).”. dengan kata “ kamu berani bicara kasar sama aku” membuktinya bahwa superego seorang majikan sangat besar terhadap tingkah laku pembantunya. Secara realis memang hal seperti itu kerap sekali terjadi di dunia nyata.
Bentuk perlindungan harta dan warisan mendiang ayah oleh Tuan Puteri yang berujung dengan penyesalannya, adalah suatu psikologi tokoh pembuat konfliks yang disajikan secara apik oleh pengarang. Satu hal yang saya tangkap dari tokoh Tuan Puteri dan drama ini adalah kematian itu tidak bisa dikelabuhi, karena dia akan mengelabuhi kita pada waktu dan tempat yang tepat.

Jumat, 21 Maret 2014

Saat saya Bangun Tidur

bising banget, denger anak-anak yang membahas "masalah" yang belum waktunya dibahas. sempat saya ingin tidur lagi, tapi otak sudah tidak mau "ngeplek" lagi. sempat kepala saya menunduk dengan raut wajah "memilukan" tapi saya kira sudah waktunya saya "bangun" dan mendengar.
diary depresi saya hari ini sepertinya sudah akan dimulai. permulaan ini dari hati saya sendiri sampai akhirnya menginginkan "hal" itu kembali kepada lagi. "mbuletisasi".. o iyaa,, sudahlah tidur lagi saja

Senin, 17 Maret 2014

Nama Ibukku



Siapa orang yang bersarung di sini yang tidak mengetahui siapa nama Ibukku. Siapa juga orang yang berkonde di sini yang tidak tahu konde Ibukku lebih besar dari konde mereka. Sudah barang pasti semua orang di sini tahu, Ibuk berparas ayu dan menyenangkan ini adalah Ibukku.
Lembayung yang kemarin siang itu aku lihat bersama Ibuk, pagi itu tadi sudah tidak berada di tempatnya. Mungkin ada yang menyianginya tanpa sepengetahuanku. Aku sudah geram menunggu lembayung itu, tetapi apa yang kutunggu tidak ada di depanku. Dengan wajah geramku, Ibuk tidak berhenti  tertawa di sampingku karena melihat wajahku yang berubah menjadi merah menyala.
“Bukan Tuhan namanya Nil, kalau Dia tidak memberi kita lembayung lain. Wong Ibuk bisa nyari di tempat lain juga.”
Ah, sudahlah, malas berdebat dengan Ibuk yang menanggapi semua hal dengan lelucon. Dengan tangan kosong aku kembali ke pematang sawah dan duduk berdampingan dengan Ibuk. Dalam dialogku dengannya, tidak sedetikpun Ibuk memasang wajah muram. Yang  aku lihat hanya bibir yang tertarik ke atas membentuk senyuman dan lekukan di pipinya yang tirus. Terkadang saya berpikir, kapan saya bisa membuat Ibuk jauh lebih terlihat gemuk. Pipinya yang tirus saat aku menciumnya ketika pulang, tubuhnya yang selalu mengeluarkan peluh saat aku butuh uang, matanya yang sudah sayu, dan lekuk tubuhnya yang kusentuh serasa tulang, semua itu yang Ibuk tunjukkan ke mataku.
Tidak pernah sekalipun Ibuk memberitahukan kepadaku tentang hal buruk yang dialaminya. Mungkin beliau ingin hidupku serasa menyenangkan seperti yang beliau ceritakan kepadaku. Tetapi dalam perbincanganku dengan beliau pagi itu, aku tahu apa yang beliau rasakan dalam seminggu ini.
Sampai beliau menangis dan matanya terpejam menahan air mata yang tidak beliau inginkan untuk keluar, aku baru tahu, Ibukku benar-benar menghilangkan tawanya kali ini. “Namanya orang Nil, kalau tidak jadi orang yang menyenangkan ya jadi orang yang paling memuakkan. Sama juga halnya, ada orang yang suka dengan kita dan ada juga orang yang tidak suka dengan tingkah kita.” Ibuk menghentikan perkataannya lantas mengusapkan ujung rok yang beliau kenakan untuk menghapus air matanya. Dengan ucapan itu saja sudah menyebabkan mata Ibuk sembab. Rasanya kelu mendengar Ibuk berucap seperti itu. Aku hanya bisa diam dan menunggu Ibuk meneruskan tangisannya.
Dalam tangisannya, Ibu hanya ingin melepaskan beban yang Ia rasakan dalam seminggu ini karena omongan tetangga yang menyakiti hatinya. “Ah, mungkin tetangga iri Buk, sudahlah” kataku dengan merajuk. Tapi Ibuk tidak memerdulikannya.
“hanya saja mungkin Tuhan ingin lihat seberapa kuatnya Ibuk punya anak seperti kamu Nil. Hahaha” masih saja Ibuk mencoba tertawa di depanku.
Perbincangan itu tidak Ibuk teruskan karena Ibuk terus saja mengalihkan perhatianku. Mungkin saja Ibuk tidak mau perbincangan pagi itu menjadi beban buatku.
Nama Ibukku sebagai nama yang menyenangkan, nama Ibukku yang memberi kesenangan bagiku, nama Ibukku yang membuat orang merasa senang, kini nama Ibukku tidak berarti menyenangkan seperti namanya dulu.
Aku tidak tahu apa yang ingin Ibuk sampaikan kepadaku. Hanya saja yang kutahu, Ibuk yang berusaha kuat di depanku adalah orang yang mengajari aku menutupi kelemahan dan memberi kekuatan kepada orang lain dengan menunjukkan bahwa kita dalam keadaan “baik-baik saja” tanpa berarti masalah membuat kita mati.
11 Maret 2014
Nama Ibukku memerah terjerembab di pematang saat kegagalan ada di sampingku, lantas nama Ibukku membangunkanku agar aku segera sadar “dunia tak seindah pagar besi di depan rumah”.



Rabu, 12 Maret 2014

Dialog Edanku dengan Dia


Dialog edan ku dengan dia. Waktu itu sama-sama melihat matahari menguning dari pucuk daun teh yang dilahap ulat gembuk. Aku duduk menekuk lutut (sangking takutnya). Lantas dia memegangi rokok di jari sebelah kirinya dan memamerkan asap yang membulat, keluar dari mulutnya (maunya aku dapat membungkus asap itu lantas aku bawa pulang, sebagai kenangan)
Sandya: Ediiiaaannnn!! Rokok tinggal sebatang aja sudah minta dibuang. Gimana jadinya kalau rokok sebungkus tidak mau dibakar?. Dunyo ingkang memayu. Aku tansah pingin kepethuk Wasesa.
Kala: Ngalengka masih jauuh San, habiskan dulu rokokmu itu. Patah begitupun kalau tidak kamu bakar ya tidak sampai di mulutmu. Aku itu yang memberi kesempatan buatmu selagi kamu bisa melihat kepulan asap rokokmu itu. Jadi berhenti ngomong saja, dan segera keluarkan asapnya.
Sandya geram. Lantas memicingkan matanya ke arahku. Itulah mata yang membuat mataku biru.
Kala: sudah atau belum? Kalau sudah, mari pergi dari tempat ini. Aku ingin melihatkan kepadamu bagaimana caranya aku sekarang duduk di sampingmu.
Sandya: Ah, sudahlah. Aku tidak butuh cerita konyolmu. Baru sehari saja kamu bersamaku, aku sudah muak mendengarkanmu. Dari tadi kamu mengajakku pergi, tetapi aku tidak mau. Karena aku tidak mau meninggalkan rokokku. Kasihan dia jika sendiri.
Kala: Halah San, untuk mati saja kamu sulit. Kemarin kamu punya hidup, inginmu mati. Dikasih mati, maumu hidup dengan rokok sialanmu itu. Lantas, Tuhan yang mana lagi yang ingin kamu permainkan? Dengarkan ocehanku saja, karena sakitnya sudah sampai tenggorokanmu. Duniamu sudah muak melihat kamu menjilati rokokmu, aku juga sudah tidak sabar melihatmu minta tolong di tempat barumu nanti. Aku hanya ingin mengambil bagianku yang masih ada di tubuhmu! Sudahlah ikut aku saja. Dan bermainlah dengan Tuhanmu nanti saat kamu benar-benar kubawa mati.
Sandya mengerang dengan menyimpan rokok di sakunya. Aku benar-benar ketakutan untuk bernafas. Benar-benar tak ingin mati seperti tekukan Kala yang ku lihat. Benar-benar gila Dunia Tuhan. Benar-benar gila.
Benar-benar gila si Kala. Selesaikan tugasmu sebelum aku benar-benar gila ketakutan karenamu. Dialog edanku dengan dia.
(Lintang)

Senin, 10 Februari 2014

Setelah 7 tahun



Saat berlalu di keremangan, ada punggung sebagai tempat merebahnya kepalaku yang beku saat aku benar-benar menginginkannya menjadi milikku. "Tidak pantas. Asalnya dia bertuhan, tapi kau masih saja menuhankan dia. Tidak pantas, dan silakan pergi saja." ada bisikan lain dari perempuan berkepang dua yang menemuiku tengah malam buta di pembaringan.

Belum lama aku mengenalnya. Dia lelakiku -anggap saja dia benar-benar menjadi lelakiku- yang belum lama kukenal. Kali pertama aku mengenalnya lewat lukisan. Potret diriku terpajang memayu di kamarnya. Itupun karena ada yang memergoki potret bisuku menempel di tembok kamarnya.
"Ini potretmu Dik, sayu melihat kupu-kupu yang duduk di jari manismu. Mataku tertancap di tembok kamarnya karena potretmu."
"Potretku? Darimana dia bisa melukisku Bang?"
Oh memang Jalang tak pernah menepi dari pikiranku.
***
. . . Bulir embun menyentuh tulang daun lembayung. Menetes, menunjam ke batu di bawah tangkup lembayung. 1 bulir terpecah menjadi anak bulir. Berpisah karena menjatuhkan diri di batu yang keras. Pipit ramai dengan paruh yang mencicit. Induk menyuapinya dengan lembut, menaruh ulat di paruhnya lalu menciumi paruh si bungsu. Kelak si bungsu akan menjadi induk pipit yang tangguh mencari ulat.
Mengamati pagi ini lewat kamar berukuran 3 x 4, membuatku cukup puas dengan suasana sepi sebagai kontemplasi kesendirianku. Bukan jalang yang kutemui kemarin lantas aku tidak memikirkannya.
Masih saja dia berlarian di otakku dan sesekali duduk tersenyum meminta aku sekadar untuk memangkunya. Segera saja dia kubuang ke tempat makanan pipit di seberang jendela kamarku.
Sudah tujuh tahun jendela ini melihat polahku yang kebingungan. Sama seperti sekarang ini. Masih saja lukisan jalang yang kudengar kemarin selalu jadi pikiranku.
Topi siapa yang berani menatapku saat aku benar-benar tidak tahu arah matanya.
Segera saja aku pergi dan mencari lukisan itu tanpa memikirkan si pemilik topi.
Sudah barang pasti jika aku mencari, sulit untuk kutemukan dalam kondisi tidak tahu arti lukisan dan jalan mana yang akan kulalui entahlah, bertemu dengan siapapun aku menunduk tanpa berani bertanya dimana lukisan itu berada.
Sampai pada sebuah rumah yang tidak berukuran besar, seperti rumah burung yang kulihat tadi pagi di samping jendela kamarku.
Depannya kursi seperti kursi taman berjajar melingkar. Berwarna coklat seperti warna kayu mengkilat. Di samping kursi itu ada sebuah pohon mangga yang dikelilingi oleh rumput taman yang lemut sekali ketika kakiku telanjang di atasnya.
Rumah bertembok putih tulang menghadapku. Aku tidak tahu rumah siapa itu. Entah, ini satu-satunya rumah yang kutahu menyimpan potretku.
Seorang laki-laki berkumis mengenakan baju rombeng, celana jeans berwarna coklat, memakai topi coklat yang berlumuran cat berwarna merah, putih, dan abu-abu menatap dengan menodongkan kuasnya ke arahku.
“masuk saja, apa yang akan kamu beli?”
Aku kenal suara itu.
Suara yang selama 4 bulan mengajariku apa kontemplasi sepi yang bisa kamu tulis. Berbulan-bulan aku dulu dijejali pemikiran sadis mengenai tanganku ketika menulis. Tidak bisa berontak, dan hanya menuruti apa yang dikatakannya. Itu saja sudah membuatku aman.
Buku adalah sumber utamanya untuk melukis. Katanya, tulisan di buku itu tak ubahnya garis-garis tebal dan tipis yang sengaja dibentuk agar orang lain membaca dan memahami apa yang mereka tulis. Lantas lukisan itu sebagai wujud estetis yang diciptakannya agar orang lain mau membaca bukunya dan tentu membeli lukisannya.
Aku teringat dia lagi. Yang sudah kulupakan begitu lama dan kukubur dalam-dalam lulangnya untuk selama-lamanya. Tapi dia hadir lagi dengan topi warna-warni dikepalanya.
Kumisnya masih tetap tebal.
Tangannya masih memegang kuas.
Aku masih hafal bagaimana tangan itu menggambar.
“iya, maaf aku datang lagi ke tempatmu ini.” Mataku belum bosan melihat salah satu potret seorang gadis yang diam dengan mata sayu menatap kupu di depannya. Umur gadis itu mungkin sekitar 18 tahun.
“Dengan keruduk yang dia pakai, aku melihat Tuhan ada di punggungnya”. Katanya memegang lukisan yang ia buat sendiri lantas menatapku. Tatapannya masih sama.
“Matanya masih sama, Tuhan masih ada di kelopaknya,”.
Bicaranya masih sama. Kangen sudah menyetubuhiku. Sudah lemas aku dirayunya. Sudah tidak kuat kakiku berdiri.
Aku terduduk. Tetap menatap lukisan yang ada di depanku.
“Saat berlalu di keremangan, ada punggung sebagai tempat merebahnya kepalaku yang beku saat aku benar-benar menginginkannya menjadi milikku. "Tidak pantas. Asalnya dia bertuhan, tapi kau masih saja menuhankan dia. Tidak pantas, dan silakan pergi saja." ada bisikan lain dari perempuan berkepang dua yang menemuiku tengah malam buta di pembaringan 4 bulan yang lalu.”/ dia melihatku lagi. Aku menunduk lagi.
Yang kurasakan masih 4 bulan kita tidak bertemu. Wajahmu masih sama saat aku berumur 18 tahun. Tatapanmu masih hangat seperti dulu.
Ternyata begini rupamu setelah 7 tahun kita tidak bertemu.