Rabu, 02 April 2014

Tuan Puteri Mengelabuhi Kematian


Naskah drama berjudul “Akhirnya Mati Juga” merupakan naskah drama yang menjadi pemenang juara III dalam lomba naskah drama propinsi Jawa Tengah. Naskah drama karangan Drs. Slamet Setya Budi, syarat dengan pemikiran pembaca yang terlibat dengan pemaknaan tiap kalimat yang diucapkan oleh tokoh.
            Seperti yang saya rasakan sewaktu membaca judul naskah. “Akhirnya mati juga”. Dalam pemikiran saya, judul yang dipakai mengisyaratkan sebuah kelegaan dengan adanya sebuah peristiwa yang memang sudah dinanti-nantikan. Judul yang digunakan pengarang membuat saya mencari tahu mengapa judul itu dipakai dan ada peristiwa apa yang melatar belakangi terbentuknya judul tersebut yang menimbulkan sebuah kelegaan.
            Dalam mengapresiasi drama ini, saya menggunakan pendekatan psikoanalisis pada tokoh bernama “Tuan Puteri”.. Tuan Puteri adalah seorang anak dari tokoh bernama “Tuan Besar” yang menjadi tokoh pemicu klimaks dalam naskah drama ini. Saya tertarik dengan tokoh Tuan Puteri karena melihat kelainan psikologi seorang anak yang menanggapi kematian ayahnya, yaitu Tuan Besar.
            Sebelum masuk ke dalam ranah apresiasi, telaah pustaka yang saya gunakan dari teori psikoanalisis Sigmund Freud, yaitu Id, Ego, dan superego. Pembagian wilayah pikiran menurut Freud ini membantu dia menjelaskan gambaran mental berdasarkan fungsi atau tujuannya. Seperti yang dikatakan Freud, Id merupakan sistem kepribadian yang asli atau yang paling dasar. Sistem yang didalamnya terdapat naluri bawaan. Hanya timbul oleh kesenangan tanpa didasari oleh nilai, etka, dan akhlak tanpa menilai hal tersebut baik atau buruk. Ego berperan sebagai pengendali antara id dan superego, sedangkan superego adalah penentu watak yang ada pada ego.
Dengan kata lain, bagi Freud bagian yang paling primitive dari pikiran adalah das Es atau “sesuatu” atau “itu”, yang hampir selalu diterjemahkan sebagai id. Bagian kedua adalah das Ich atau “saya”, yang diterjemahkan sebagai ego. Dan bagian yang terakhir yaitu das Uber-Ich atau “saya yang lebih” yang disebut superego. Tingkat atau wilayah ini, sudah tentu, tak nyata karena merupakan kontruks hipotesis. Ketiga tingkat tersebut saling berinteraksi sehingga ego bisa masuk menembus berbagai tingkat topografis dan memiliki komponen alam sadar, alam bawah sadar, dan alam tidak sadar. Sementara superego sendiri berada pada alam bawah sadar dan alam tidak sadar, sedangkan id sepenuhnya berada di alam bawah sadar. (Jess Feist, 2013: 31).
Secara singkat, cerita ini tidak terlepas dari psikologi tokoh yang mengalami kelainan. Kelainan yang saya maksud di sini adalah sifat tokoh yang tidak menentu. Pengarang membuat watak tokoh berubah karena keadaan. Seperti yang dilakukan oleh tokoh Marwan. Awalnya tokoh Marwan saya anggap sebagai toh pentagonis, atau tokoh yang memiliki karakter baik. Terlihat dalam cuplikan dialognya dengan Satpam Pujo
Marwan: “Mengapa mereka mendoakan Tuan Besar mati seperti itu? Padahal tuan besar itu orang baik. Selama ini semua kekayaannya tidak dinikmati sendiri. Beliau seorang dermawan. Beliau seorang pahlawan. Beliau tidak segan-segan memberi bantuan kepada semua saudara dan kerabatnya yang kurang mampu”. Ini adalah sebuah bentuk pembelaan seorang pembantu terhadap gunjingan orang lin yang ditujukan kepada majikannya, yaitu Tuan Besar.
Tetapi karena keadaan yang diciptakan oleh pengarang berbanding terbalik dengan keadaan tokoh Marwan pada mulanya, tokoh Marwan memiliki kelainan dalam berpikir yang menurut saya terjadi karena pembentukan kondisi. Secara realis memang tokoh Marwan berbuat demikian karena adanya pengaruh dari alam sadarnya dan keadaan yang diciptakan pengarang. Seperti dalam cuplikan dialog Marwan dengan Tuan Puteri,
Marwan: “(berteriak, suaranya menghentikan paduan suara tadi)
Stoooooop! Berhentiiiiii!.Suasana berubah menjadi hening. Sepi. Tak ada suara sama sekali.
Sekarang akulah penguasa istana ini! Akulah penguasa negeri ini! Akulah Tuan Besar yang akan mengulangi masa-masa kejayaanku ha..ha…ha….Semua harus tunduk perintahku. Kalau ada yang berani membangkang? Kubunuh ! atau kujebloskan dalam penjara bawah tanah! Mau? Termasuk juga ,Kau! (menuding Tuan Puteri).”
Cuplikan dialog ini menjadi salah satu bukti tindakan tokoh Marwan yang tidak sesuai dengan perkataan sebelumnya ketika keadaan yang sulit ada di pihaknya, tetapi dengan keadaan yang dirasanya menguntungkan baginya, Marwan berpikir terbalik dengan tingkah sebelumnya.
Marwan: ”(tertawa terbahak-bahak) Ha…ha…ha…ha….Terserah! Terserah ! Terserah Kalian ! Kalian boleh omong apa saja! Yang penting sekarang akulah penguasa istana ini! Akulah penguasa negeri ini! Akulah Tuan Besar yang akan mengulangi masa-masa kejayaan di masa lampau , menculik, membunuh, menggusur orang-orang miskin, dan menimbun harta ha.. ha…ha….Sekarang kalian pergi dari sini! Menyingkir dari hadapanku! Pergiiiiiiiiiiiiiii!!!”. Penyelesaian konfliks yang dilakuakn oleh tokoh Marwan dibuktikan dengan keinginannya untuk menunjukkan sifat aslinya kepada tokoh lain. dengan artian, sifat semena-mena tokoh Marwan terlihat jelas ketika keadaan berpihak kepadanya.
Dalam apresiasi ini bukan Marwan sebagai tokoh yang saya analisis. Tetapi menurut saya, penggambaran “bagaimana Marwan” memengaruhi pembaca terhadap sikap Tuan Puteri dalam menaggapi keadaan yang awalnya berpihak kepadanya, justru mengelabuhinya.
Tokoh Tuan Puteri muncul kali pertama dengan dialognya “Hidup….Hidup…..hidup….hidup….Ayahnda harus hidup.”,
Ayahnda harus tetap hidup…bertahan Ayahnda. Ayo bertahan Ayahnda ..jangan hiraukan suara orang-orang itu. Mereka orang-orang jahat yang tidak mempunyai perasaan..”,
Bertahanlah Ayahnda…jangan tinggalkan kami dalam keadaan seperti ini. Kalau Ayanda meninggal hidup kami pasti berantakan. Orang-orang jahat itu pasti akan merebut semua harta kita. Mereka pasti akan merebut perusahaan-perusahaan kita. Mereka pasti akan menguras uang kita di bank luar negeri. Dan …. Dan mereka pasti akan memasukkan kita ke dalam penjara… hu..hu…hu..(menangis)”. Ketika mengucapkan dialog tersebut Tuan Puteri dalm kondisi menunggui ayahnya yang sedang terbaring sakit.
Jika dilihat dari id tokoh, pemikiran tokoh Tuan Puteri tepat sebagai seorang anak yang tidak menginginkan ayahnya meninggal. Sampai-sampai timbul ketakutan yang mendalam pada diri Tuan Puteri jika ayahnya meninggal. Berdasarkan superego yang menyatakan “saya”, Tuan Puteri sadar benar dengan harapannya agar ayahnya tetap hidup. Sedangkan egonya sangat tinggi karena tidak berpikir bahwa kematian akan tetap datang menghampiri ayahnya, kapanpun waktunya. Selain itu terlihat pula superego seorang Tuan Puteri saat dia tidak ingin ada yang mengambil hartanya jika kelak ayahnya meninggal. Keinginan Tuan puteri inilah yang memunculkan konfliks di dalam drama ini.
Memang sifat Tuan Puteri dominan pada superego dan ego yang terlalu besar, seperti tingkah Tuan Puteri yang menginginkan sesuatu atau “id” yang jauh dari pikiran umum manusia lain. seperti dalam cuplikan,
Tolong, Dok ! Tolong hidupkan lagi Ayahnda! Aku tidak mau Ayahnda meninggal. Aku ingin ayanda tetap hidup.”.
“Tolong, Dok! Hidupkan kembali Ayahnda. Pokoknya hidupkan kembali Ayahnda! Apapun syaratnya, berapapun biayanya pasti semua akan saya bayar. Yang penting ayahnda hidup. Ayolah ,Dok! (menghiba)”
“Cepat , Dok! Jangan sampai wartawan dan semua orang tahu mengenai hal ini! Jangan sampai mereka tahu kalau Ayahnda sudah meninggal! Mereka pasti akan berpesta pora untuk merayakan kematian Ayahnda ini . Mereka pasti akan menagadakan syukuran tujuh hari tujuh malam untuk merayakan kematian Ayahnda ini. Huh.! Mereka memang orang-orang brengsek yang tidak punya perasaan. Dokter tahu kan apa yang setiap hari mereka doakan untuk Ayahnda? Mati..mati…mati…mati…! Itulah doa mereka !
Uh ..menyebalkan sekali!”
Keinginan Tuan Puteri yang tidak masuk akal ini menunjukkan bahwa dia memiliki sifat keras kepala yaitu mementingkan ego dan dengan pemikirannya dengan dokter yang mengembalikan nyawa ayahnya inilah letak superego nya.
Letak id yang dimaksudkan dalam ego Tuan Puetri adalah harta dan warisan yang ditinggalkan ayahnya. Dengan superegonya, Tuan Puteri takut jika warisan dan harta tersebut jatuh ke tangan orang-orang yang dia anggap sebagai orang brengsek.
Bukan hanya psikologi Tuan Puteri yang jauh dari bayangan seorang anak yang melindungi ayahnya, sifat feminisme tampak pada desakan Tuan Puteri terhadap pembantunya agar menuruti keinginannya. “Ayolah bilang Ya. Ini demi kita semua. Demi kamu, demi anak-anak kamu dan demi semua penghuni istana ini. Kalau rencana ini berhasil tentu semua keperluanmu akan kami cukupi dan biaya masa depan anak-anakmu akan kami tanggung.”.
Bentuk pertentangan yang diperlihatkan sikap keras kepala Tuan Puteri juga terlihat pada “Aku? Kamu berani bicara kasar sama aku? Ingat kamu adalah Mar-wan (dieja persuku kata).”. dengan kata “ kamu berani bicara kasar sama aku” membuktinya bahwa superego seorang majikan sangat besar terhadap tingkah laku pembantunya. Secara realis memang hal seperti itu kerap sekali terjadi di dunia nyata.
Bentuk perlindungan harta dan warisan mendiang ayah oleh Tuan Puteri yang berujung dengan penyesalannya, adalah suatu psikologi tokoh pembuat konfliks yang disajikan secara apik oleh pengarang. Satu hal yang saya tangkap dari tokoh Tuan Puteri dan drama ini adalah kematian itu tidak bisa dikelabuhi, karena dia akan mengelabuhi kita pada waktu dan tempat yang tepat.

1 komentar: