Naskah drama berjudul “Akhirnya Mati Juga” merupakan
naskah drama yang menjadi pemenang juara III dalam lomba naskah drama propinsi
Jawa Tengah. Naskah drama karangan Drs. Slamet Setya Budi, syarat dengan
pemikiran pembaca yang terlibat dengan pemaknaan tiap kalimat yang diucapkan
oleh tokoh.
Seperti
yang saya rasakan sewaktu membaca judul naskah. “Akhirnya mati juga”. Dalam
pemikiran saya, judul yang dipakai mengisyaratkan sebuah kelegaan dengan adanya
sebuah peristiwa yang memang sudah dinanti-nantikan. Judul yang digunakan
pengarang membuat saya mencari tahu mengapa judul itu dipakai dan ada peristiwa
apa yang melatar belakangi terbentuknya judul tersebut yang menimbulkan sebuah
kelegaan.
Dalam
mengapresiasi drama ini, saya menggunakan pendekatan psikoanalisis pada tokoh
bernama “Tuan Puteri”.. Tuan Puteri adalah seorang anak dari tokoh bernama
“Tuan Besar” yang menjadi tokoh pemicu klimaks dalam naskah drama ini. Saya
tertarik dengan tokoh Tuan Puteri karena melihat kelainan psikologi seorang
anak yang menanggapi kematian ayahnya, yaitu Tuan Besar.
Sebelum
masuk ke dalam ranah apresiasi, telaah pustaka yang saya gunakan dari teori
psikoanalisis Sigmund Freud, yaitu Id,
Ego, dan superego. Pembagian wilayah pikiran menurut Freud ini membantu dia
menjelaskan gambaran mental berdasarkan fungsi atau tujuannya. Seperti yang dikatakan
Freud, Id merupakan sistem kepribadian yang asli atau yang paling dasar. Sistem
yang didalamnya terdapat naluri bawaan. Hanya timbul oleh kesenangan tanpa didasari
oleh nilai, etka, dan akhlak tanpa menilai hal tersebut baik atau buruk. Ego berperan
sebagai pengendali antara id dan superego, sedangkan superego adalah penentu
watak yang ada pada ego.
Dengan
kata lain, bagi Freud bagian yang paling primitive dari pikiran adalah das Es atau “sesuatu” atau “itu”, yang
hampir selalu diterjemahkan sebagai id.
Bagian kedua adalah das Ich atau
“saya”, yang diterjemahkan sebagai ego.
Dan bagian yang terakhir yaitu das
Uber-Ich atau “saya yang lebih” yang disebut superego. Tingkat atau wilayah ini, sudah tentu, tak nyata karena
merupakan kontruks hipotesis. Ketiga tingkat tersebut saling berinteraksi
sehingga ego bisa masuk menembus berbagai tingkat topografis dan memiliki
komponen alam sadar, alam bawah sadar, dan alam tidak sadar. Sementara superego
sendiri berada pada alam bawah sadar dan alam tidak sadar, sedangkan id
sepenuhnya berada di alam bawah sadar. (Jess Feist, 2013: 31).
Secara
singkat, cerita ini tidak terlepas dari psikologi tokoh yang mengalami
kelainan. Kelainan yang saya maksud di sini adalah sifat tokoh yang tidak
menentu. Pengarang membuat watak tokoh berubah karena keadaan. Seperti yang
dilakukan oleh tokoh Marwan. Awalnya tokoh Marwan saya anggap sebagai toh
pentagonis, atau tokoh yang memiliki karakter baik. Terlihat dalam cuplikan
dialognya dengan Satpam Pujo
Marwan: “Mengapa mereka mendoakan Tuan Besar
mati seperti itu? Padahal tuan besar itu orang baik. Selama ini semua
kekayaannya tidak dinikmati sendiri. Beliau seorang dermawan. Beliau seorang
pahlawan. Beliau tidak segan-segan memberi bantuan kepada semua saudara dan
kerabatnya yang kurang mampu”. Ini adalah sebuah bentuk pembelaan seorang pembantu terhadap
gunjingan orang lin yang ditujukan kepada majikannya, yaitu Tuan Besar.
Tetapi karena keadaan yang
diciptakan oleh pengarang berbanding terbalik dengan keadaan tokoh Marwan pada
mulanya, tokoh Marwan memiliki kelainan dalam berpikir yang menurut saya
terjadi karena pembentukan kondisi. Secara realis memang tokoh Marwan berbuat
demikian karena adanya pengaruh dari alam sadarnya dan keadaan yang diciptakan
pengarang. Seperti dalam cuplikan dialog Marwan dengan Tuan Puteri,
Marwan: “(berteriak, suaranya menghentikan paduan suara
tadi)
Stoooooop! Berhentiiiiii!.Suasana berubah menjadi hening. Sepi. Tak ada suara sama sekali.
Sekarang akulah penguasa istana ini! Akulah penguasa negeri ini! Akulah Tuan Besar yang akan mengulangi masa-masa kejayaanku ha..ha…ha….Semua harus tunduk perintahku. Kalau ada yang berani membangkang? Kubunuh ! atau kujebloskan dalam penjara bawah tanah! Mau? Termasuk juga ,Kau! (menuding Tuan Puteri).” Cuplikan dialog ini menjadi salah satu bukti tindakan tokoh Marwan yang tidak sesuai dengan perkataan sebelumnya ketika keadaan yang sulit ada di pihaknya, tetapi dengan keadaan yang dirasanya menguntungkan baginya, Marwan berpikir terbalik dengan tingkah sebelumnya.
Stoooooop! Berhentiiiiii!.Suasana berubah menjadi hening. Sepi. Tak ada suara sama sekali.
Sekarang akulah penguasa istana ini! Akulah penguasa negeri ini! Akulah Tuan Besar yang akan mengulangi masa-masa kejayaanku ha..ha…ha….Semua harus tunduk perintahku. Kalau ada yang berani membangkang? Kubunuh ! atau kujebloskan dalam penjara bawah tanah! Mau? Termasuk juga ,Kau! (menuding Tuan Puteri).” Cuplikan dialog ini menjadi salah satu bukti tindakan tokoh Marwan yang tidak sesuai dengan perkataan sebelumnya ketika keadaan yang sulit ada di pihaknya, tetapi dengan keadaan yang dirasanya menguntungkan baginya, Marwan berpikir terbalik dengan tingkah sebelumnya.
Marwan: ”(tertawa terbahak-bahak) Ha…ha…ha…ha….Terserah!
Terserah ! Terserah Kalian ! Kalian boleh omong apa saja! Yang penting sekarang
akulah penguasa istana ini! Akulah penguasa negeri ini! Akulah Tuan Besar yang
akan mengulangi masa-masa kejayaan di masa lampau , menculik, membunuh,
menggusur orang-orang miskin, dan menimbun harta ha.. ha…ha….Sekarang kalian
pergi dari sini! Menyingkir dari hadapanku! Pergiiiiiiiiiiiiiii!!!”. Penyelesaian konfliks yang
dilakuakn oleh tokoh Marwan dibuktikan dengan keinginannya untuk menunjukkan
sifat aslinya kepada tokoh lain. dengan artian, sifat semena-mena tokoh Marwan
terlihat jelas ketika keadaan berpihak kepadanya.
Dalam apresiasi ini bukan Marwan
sebagai tokoh yang saya analisis. Tetapi menurut saya, penggambaran “bagaimana
Marwan” memengaruhi pembaca terhadap sikap Tuan Puteri dalam menaggapi keadaan
yang awalnya berpihak kepadanya, justru mengelabuhinya.
Tokoh Tuan Puteri muncul kali
pertama dengan dialognya “Hidup….Hidup…..hidup….hidup….Ayahnda
harus hidup.”,
“Ayahnda
harus tetap hidup…bertahan Ayahnda. Ayo bertahan Ayahnda ..jangan hiraukan
suara orang-orang itu. Mereka orang-orang jahat yang tidak mempunyai perasaan..”,
“Bertahanlah
Ayahnda…jangan tinggalkan kami dalam keadaan seperti ini. Kalau Ayanda
meninggal hidup kami pasti berantakan. Orang-orang jahat itu pasti akan merebut
semua harta kita. Mereka pasti akan merebut perusahaan-perusahaan kita. Mereka
pasti akan menguras uang kita di bank luar negeri. Dan …. Dan mereka pasti akan
memasukkan kita ke dalam penjara… hu..hu…hu..(menangis)”. Ketika
mengucapkan dialog tersebut Tuan Puteri dalm kondisi menunggui ayahnya yang
sedang terbaring sakit.
Jika dilihat dari id tokoh,
pemikiran tokoh Tuan Puteri tepat sebagai seorang anak yang tidak menginginkan
ayahnya meninggal. Sampai-sampai timbul ketakutan yang mendalam pada diri Tuan
Puteri jika ayahnya meninggal. Berdasarkan superego yang menyatakan “saya”,
Tuan Puteri sadar benar dengan harapannya agar ayahnya tetap hidup. Sedangkan
egonya sangat tinggi karena tidak berpikir bahwa kematian akan tetap datang
menghampiri ayahnya, kapanpun waktunya. Selain itu terlihat pula superego
seorang Tuan Puteri saat dia tidak ingin ada yang mengambil hartanya jika kelak
ayahnya meninggal. Keinginan Tuan puteri inilah yang memunculkan konfliks di
dalam drama ini.
Memang sifat Tuan Puteri dominan
pada superego dan ego yang terlalu besar, seperti tingkah Tuan Puteri yang
menginginkan sesuatu atau “id” yang jauh dari pikiran umum manusia lain. seperti
dalam cuplikan,
“Tolong,
Dok ! Tolong hidupkan lagi Ayahnda! Aku tidak mau Ayahnda meninggal. Aku ingin
ayanda tetap hidup.”.
“Tolong, Dok! Hidupkan kembali Ayahnda. Pokoknya hidupkan
kembali Ayahnda! Apapun syaratnya, berapapun biayanya pasti semua akan saya bayar.
Yang penting ayahnda hidup. Ayolah ,Dok! (menghiba)”
“Cepat , Dok! Jangan sampai wartawan dan semua orang tahu
mengenai hal ini! Jangan sampai mereka tahu kalau Ayahnda sudah meninggal!
Mereka pasti akan berpesta pora untuk merayakan kematian Ayahnda ini . Mereka
pasti akan menagadakan syukuran tujuh hari tujuh malam untuk merayakan kematian
Ayahnda ini. Huh.! Mereka memang orang-orang brengsek yang tidak punya
perasaan. Dokter tahu kan apa yang setiap hari mereka doakan untuk Ayahnda?
Mati..mati…mati…mati…! Itulah doa mereka !
Uh ..menyebalkan sekali!”
Uh ..menyebalkan sekali!”
Keinginan Tuan Puteri yang tidak
masuk akal ini menunjukkan bahwa dia memiliki sifat keras kepala yaitu
mementingkan ego dan dengan pemikirannya dengan dokter yang mengembalikan nyawa
ayahnya inilah letak superego nya.
Letak id yang dimaksudkan dalam ego
Tuan Puetri adalah harta dan warisan yang ditinggalkan ayahnya. Dengan
superegonya, Tuan Puteri takut jika warisan dan harta tersebut jatuh ke tangan
orang-orang yang dia anggap sebagai orang brengsek.
Bukan hanya psikologi Tuan Puteri
yang jauh dari bayangan seorang anak yang melindungi ayahnya, sifat feminisme
tampak pada desakan Tuan Puteri terhadap pembantunya agar menuruti
keinginannya. “Ayolah bilang Ya. Ini demi
kita semua. Demi kamu, demi anak-anak kamu dan demi semua penghuni istana ini.
Kalau rencana ini berhasil tentu semua keperluanmu akan kami cukupi dan biaya
masa depan anak-anakmu akan kami tanggung.”.
Bentuk pertentangan yang
diperlihatkan sikap keras kepala Tuan Puteri juga terlihat pada “Aku? Kamu berani bicara kasar sama aku?
Ingat kamu adalah Mar-wan (dieja persuku kata).”. dengan kata “ kamu berani
bicara kasar sama aku” membuktinya bahwa superego seorang majikan sangat besar
terhadap tingkah laku pembantunya. Secara realis memang hal seperti itu kerap
sekali terjadi di dunia nyata.
Bentuk perlindungan harta dan
warisan mendiang ayah oleh Tuan Puteri yang berujung dengan penyesalannya,
adalah suatu psikologi tokoh pembuat konfliks yang disajikan secara apik oleh pengarang. Satu hal yang saya
tangkap dari tokoh Tuan Puteri dan drama ini adalah kematian itu tidak bisa
dikelabuhi, karena dia akan mengelabuhi kita pada waktu dan tempat yang tepat.
eciye... gak nguati backgroud blog.e :v
BalasHapus(o.OV