Minggu, 07 Juli 2013

Tanya jawab sendiri.



Aku menulis ini untuk kalian,,
Aku menulis ini untuk kalian, entah kalian nomor berapa aku lupa. Tapi kalian pernah bermain denganku. Ya, pemainan yang kalian ciptakan sendiri lantas kalian mainkan dengan lihai sampai kalian terjerembab dengan penolakan.
Lalu. Awal aku merasakan legitnya mawar yang menggeliat di lidahku. Aku tau mawar itu tidak pahit. Awalnya memang kucampur dengan aroma melati, inginku ada sekutu merah dari mawar dan putih dari melati, tapi tidak dengan kalian. Kalian sendiri yang merebus melati itu sampai menghitam lalu mencampurnya. Hitam,,, tak sempurna warna yang kalian hasilkan.
Aku sama sekali tak pernah mengundang kalian masuk di hidupku. Sama sekali. Kalian sendiri yang membawa nampan sajen untukku. Harapan kalian tentu sajen iku kuterima dan aku menggamit pinggang kalian lalu pasrah kucicipi setiap lekuk tubuh kalian. Ih,,jijik!!! Picik!!!
Tarik. Ulur. Tarik ulur. Saat ada gadis lain,, kalian bermain denganku. Kalian mengulur-ulur-ulur-

saat aku melepasssss... . . . . .

TARIK!!!!!!
Oh begini. Aku tahu. Tahu. Aku faham permainan ini. Bagaimana jika diselesaikan di sini saja!!
Coba sekarang kalian menarikku!!!
Tarik aku sampai dekapan!!
tarik aku sampai daguku menempel!

TARIK!!!

TANGANKU MENAMPARMU DAN MELEPASKU.
Tak lupa.

AKU MENDORONGMU! Sampai uluran terakhir dan terakhir kamu rasakan.
Balas dendam???? Oh tidak!!! Hanya pelajaran.

Oh,, aku terlalu menyayangi jiwa-jiwa yang menyayangimu. Itu hanya sebagian kecil hukuman dari gadis yang tak pernah melihat cacat kalian. Hey,,, arum wajahmu,, ah,,, kalian terlalu menggodaku.

-06 juli 2013-  
20.50

Jumat, 05 Juli 2013

Adele- Make You Feel My Love


When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.
When the evening shadows and the stars appear,
And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.
I know you haven't made your mind up yet,
But I would never do you wrong.
I've known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong.
I'd go hungry; I'd go black and blue,
I'd go crawling down the avenue.
No, there's nothing that I wouldn't do
To make you feel my love.
The storms are raging on the rolling sea
And on the highway of regret.
Though winds of change are blowing wild and free,
You ain't seen nothing like me yet.
I could make you happy, make your dreams come true.
Nothing that I wouldn't do.Go to the ends of the Earth for you,To make you feel my love
To make you feel my love

Selasa, 25 Juni 2013

perempuanmu mengadu


Yong.
Kita bertemu mungkin karena kita harus pisah ya Yong? Tapi jika kalau harus berpisah denganmu, sebenarnya aku pun tak mau. Mati saja aku Yong, dan mungkin pembaringanku tak pernah kau temui lagi, yah karena memang kamu tak mau menemuiku.
Yong. Sekitar 8 bulan yang lalu,
Kamu bersua denganku. Tanpa perkenalan. Aku hanya tau namamu. –tapi kamu tak pernah tahu namaku- . berawal dari Koran, kita dekat. Saat itu seperti teman yang lain, biasa, standard, gak ada “ngeh” juga antara kita.
Tapi setelah dekat di dumay dan saling tukar angka, kamu semakin mendekat dan aku tidak menolak.
Tahu, kenapa? Yah. Memang aku mendekat, tapi maaf, sebagai sahabatmu.
Kamu tahu juga kenapa? Saat itu aku masih bersama laki-laki lain. Laki-laki itu kumiliki hampir 2 tahun. Naas Yong, hubunganku dengan dia kandas setelah permainan kita di tanjung.
Memang sebelum kita mulai permainan, huuuhhhfttt sudah lelah aku cek-cok dengan dia. Taulah,, dikit-dikit “pokoknya kamu. Kamu kamu.” Dan itu membosankan, terlebih nyakitin.
Yong, awal permainan kita kamu buka dengan pelukanmu di depan topeng. Sempat aku berpikir, mungkin juga saat itu kamu memakai topeng. Tapi tak tahulah, yang terlintas hanya “kesal”.
Kesal Yong. Kamu yang sudah kujanjikan jadi sahabat baikku, tapi kamu punya perasaan lebih. Teramat lebih. Dan maaf, aku tidak suka. Sampai kamu dengar sendiri jawabanku, “aku adalah orang yang pertama kali keluar dari permainanmu,”
Yah, selama 6 bulan tak ada perempuan yang menyetubuhimu, aku hadir dengan polosnya merangkulmu dari depan –tak seperti perempuan pada umumnya yang merangkul dari samping rusukmu-. Selama itu pula kamu kehausan tangan yang kau ciumi setiap malam.
Yong, lambaut laun,,dengan diamnya kamu, aku tak tahan untuk menegurmu. Aku paham, kenapa diammu? Teramat paham, aku sudah berkali-kali tahu tingkah laki-laki ketika aku keluar dari permainannya -23 itu tidak sedikit- aku sekarang yang mendekatimu. Aku mendekat karena aku tak mau melepas laki-laki sepertimu.melepas laki-laki yang merangkap sahabat sepertimu.
Jika ditanya, kita mulai permainan lagi itu kapan, aku tidak tahu jawabannya. Yang ku tahu, saat aku membuka diri untukmu dengan syarat, tidak ada hubungan diantara kita. Karena aku tahu, kamu tidak ingin serius dalam perasaan ini, begitupun aku. Awalnya aku serius denganmu, tapi... melihat sikapmu, cerminmu ku pakai. Aku juga bisa tidak serius denganmu. –serius disini yang kumaksud, kita melangkah tatap mahar-
Yong, hati perempuan mana sih yang tidak luluh mendapat perlakuan yang teramat manis dari seorang laki-laki yang begitu memeluknya. Kamu tahu, ketika di ilalang kamu menciumi pipiku, kamulah laki-laki pertama yang menciumnya. Bisa dikatakan, kamu mulai menelanjangiku perlahan. Sama sekali aku tak berontak, karena yang kurasa bukan nafsu, tapi sayangmu. Aku tahu sayangmu seperti apa untukku –itupun jika pikiranku benar, jika tidak aku bisa bunuh diri lompat dari ubun-ubunmu sampai tengkukmu. Hanya sejauh itu-
Dengan permainan kita yang lain, aku mulai meringkuk di pelukanmu. Menciumimu sama seperti kamu menciumku. Memelukmu, seperti kamu memelukku, merabamu seperti kamu menyentuh bibirku dengan tanganmu dan. . . Aku menggerayangimu, -bahkan aku sempat berpikir “bodoh, hal bodoh yang kamu lakukan ini adalah hal pertama yang kamu lakukan pada laki-laki”- aku polos.
Yong, jika kamu Tanya teori kepadaku, aku dengan lugas dan cekatan akan menjawabnya. Tapi jika kamu menginginkan aku mepraktekkannya, dahi berkenyit. “aku kalah dalam praktek.”, otakmu lebih bisa membungkam mulutku.
Yong, saat kamu menciumku, saat itu otakku terbalik. Warasku lenyap. Dan aku hanya bisa merintih-merintihku kenapa aku terima perlakuanmu- kamu boleh Yong, boleh saja menciumiku, mataku, hidung, pipi, dahi, dagu, tapi TIDAK UNTUK BIBIRKU Yong. Jika kamu Tanya mengapa, aku jawab itu akar dari pisahnya kita nanti. Di pikiranku, ketika kamu mencium bibirku, suatu saat kamu akan menciumi leherku, setelah itu kamu akan turun ke sensitifku, dan berakhir pada pecahnya selaput daraku. Pecah, nanti darah tercecer dan aku...hanya kau tinggal. –khayalku main sendiri Yong-
Aku pernah bicara ke kamu “jika kamu ingin lepas dariku, itu mudah, teramat mudah. CIUM BIBIRKU, dan aku akan segera pergi. tanpa kamu minta aku akan pergi.” begitulah, bibirku hanya untuk orang yang membeliku dengan mahar.
Yong, kamu memelukku dengan erat, aku juga akan memelukmu dengan erat. Kamu menggenggam tanganku, aku menyentuh sela jarimu. Kamu mengulurku, aku akan melepasmu.
Kamu memperlakukan aku begitu manis, teramat manis, sampai aku tak kenal dosa. Memang aku tak tahu warna dosa. Yong, nanti, ketika bibirku kamu bungkam, kamu akan tahu, tubuhku sudah kau telanjangi, dan aku akan pergi.

Sayang.-jika benar aku yakin, aku adalah perempuanmu, maka aku tak akan menulis ini-


Sabtu, 15 Juni 2013

Si Merah



Hembusan angin begitu kencang dimusim hujan, Guntur tak kalah saing untuk memeriahkan. Hujan terkadang kasar, terkadang pula romantis. Kupu-kupu selalu bersedih karena terus-terusan dipaksa untuk bersembunyi. Namun berbeda dengan cacing. Saat hujan romantis, para cacing sedang asik melakukan tarian bridge dancenya. Kupu-kupu itu iri, serasa ingin murka pada tuhan. Rasa murka itu hampir sama dengan apa yang dirasakan oleh si merah. Ya, dialah si merah. Gadis dari budaya unggulan nusantara. Tapi murka merah tidak dengan tuhan melainkan dengan seorang pria. Kata orang pria itu tak rupawan, namun sangat pandai menjilat hati seorang wanita. Kabar burung juga mengatakan bahwa korban wanitanya sudah hampir dua puluh keatas, mungkin termasuk si merah. Memang seorang penjilat yang hebat. Mungkin lidah hingga pangkalnya sudah tak bertulang.
Dengan keadaan seperti ini, aku merasa beruntung. Karena si merah datang kepadaku membawa kemurkaannya. Murkanya diceritakan padakau. Mungkin karena sakit hati, dia selalu saja menyalahkan seorang pria. Dan aku hanya mebalasnya dengan kata-kata “sabar nduk”. “iya je” dia membalasnya, ketika balasan itu melesat pada telinga. Saat itu pula aku berpikir, benarkah dia suka pada pria penjilat itu??? Tuhan!!! Dia begitu cantik, tapi sungguh benar ciptaanmu yang bernama hati itu susah ditebak. Kedekatan yang tak sengaja ini sungguh sangat berarti. Karena mempertemukan dua insan yang saling patah hati. Pelarian? Mungkin tidak, ini adalah suratan dari tuhan.
Kedekatan kita memang sebentar, tapi aneh, aku sudah merasa nyaman dengan si merah. Hingga aku selalu terbayang oleh wajahnya, bagai hantu yang membuat trauma, tidak, ini indah. Ornament matanya itu yang membuat dia indah, tanpanya serasa sayur tanpa garam, serasa makan tanpa minum, serasa lauk tanpa nasi. Ya, memang saat bertemu tanpa berornament dia memang terlihat ganjal di mata.
Ketika aku duduk di joglo kampus. Joglo itu cukup, dengan dua puluh tiang dan atap yang lebar. Depannya adalah kantin yang diatasnya ada perpusatakaan. Di kantin itu aku melihat si merah. Dia sedang makan dengan teman-temannya. Sedang aku di joglo, duduk ingin mengerjakan tugas. Saat aku serius dengan tugas kuliah yang menjadi keseharianku. Tiba-tiba terlihat dari sedikit sudut ada rok yang mendekat, lalu “je, kamu itu disapa diam saja….. hi….” Si merah marah. Dikira aku menghiraukannya. Dia pergi seketika dan aku kebingungan. Jujur aku tak mendengar dia menyapa. Haduh!!! Aku takut menjauh dariku, bagaimana tuhan!!!. Jibril yang membantu dengan memberikan wahyu, menunjukan pikiran pada HP. Aku ambil HP dalam saku lalu kukirimkan sebuah pesan yang berisi “nduk, maaf aku tadi tidak dengar” dan dibalasnya dengan cepat yang isi pesannya berinti marah. Sungguh ini hal yang paling tidak aku suka, membuat orang marah. Apalagi orang ini adalah orang yang sat ini paling nyaman buatku.
Usaha demi usaha dilancarkan. joke semakin banyak aku lontarkan. Hingga membuatnya berkata “ je jangan membuatku tertawa” ini adalah sinyal keberhasilan. Dan akhirnya dia tertawa, namun aku tak tau tawanya secara nyata hanya sekedar lewat pesan dari HP. Jujur aku ingin melihat tawa atau senyumnya meski sebentar. Keinginan itu membuatku berusaha untuk menemuinya. Karena aku sadar, dia sekarang sudah bahagia denganku. Dan dua hari kemudian aku menemuinya. Si merah berbaju merah, saat ini berada di depanku. Ya, momentum ini yang aku tunggu-tunggu. Dan dia tersenyum kepadaku, dengan berornament dia tersenyum. Tuhan!!! Inikah rasa meleleh dalam sebua perasaan, Huft. Ornament itu memang sudah memperindahmu, tapi senyum itu jauh lebih menyempurnakanmu. Si Merah
Untuk Si Merah

bukan saya,, dia'sang monolog'

Kamis, 13 Juni 2013

berkicau lagi! BRAK!!

lagu yang kamu dengarkan sekarang "You and I", entah itu aku dan kamu, atau antara aku dan kamu (yang lain). : semalam,, kamu seperti menamparku dengan cumbuanmu, perlahan,, aku suka,,,tapi akhirnya... kerasmu menindihku! jika kamu tau aku mengerang,,yah seperti itu aku mengerang dan mencakar tubuhku sendiri. tak habis pikir aku dengan pesanmu,,,tamparanmu lewat tulisan itu menggantungkan segalanya yang harus kujamah, tetapi ku lepas,,,semakin kamu membiarkan aku mengulur,, ya sudah,, aku akan menurutimu,,, dan semakin kamu mengeratku, aku akan mengulur benang yang kita pintal perlahan,,. 
na. . . na... na... lagu ini -tak perlu arti- hanya dengarkan melodinya. seperti melodi dimana kita melebur, bukan membaur. aku memegangi bajuku yang jatuh sampai lutut- tanpa alas- bayangkan betapa molek saat aku mulai manja. -tapi manjaku dengan kematian-. ya, lewat kematian, aku tahu wajahmu yang mengurat.
sebenarnya aku tak tahu, guratan macam apa yang membuat perempuan ini muram?
kamu harus tahu, seberapa pemahamanku tentang hidupmu,, kalau bisa aku mau bertukar ruh denganmu agar kamu tahu,-aku meminta Tuhan untuk menjagamu-

Rabu, 12 Juni 2013

PROK!! "9 Summers 10 Autumns"


Prok!! novel 9 Summers 10 Autumns menyegarkan mata apresiator. Pendekatan karya sastra dalam novel ini berada pada psikoanalisa. Psikoanalisa menitik beratkan pada kondisi psikologi pengarang maupun tokoh-tokoh dalam novel karya sastra tersebut. Dalam kaitannya dengan novel ini, psikoanalisa berkaitan dengan pengarang yang juga menjdai tokoh utama. Karena novel ini merupakan novel otobiografi maka hal sedemikian rupa tidak menjadi hal yang aneh lagi. Bahkan terkesan lumrah jika pengarang menceritakan masa-masa yang menurut Ia berharga dan pantas untuk dibaca oleh penikmat karya sastra.
Id adalah dorongan alamiah jiwa manusia untuk berpikir dan bertindak apapun sesuai dengan kehendaknya sendiri, tanpa kendali dan tanpa keinginan untuk membatasi diri sendiri. Sumber utama id terletak dalam pikiran kanak-kanak. Interpretasi terhadap id dapat dikembalikan ke masa kanak-kanak tokoh.
Dan memang benar, dalam novel ini, dorongan alamiah yang dirasakan oleh Iwan bersumber dari kenangan masa kanak-kanaknya. Karena melihat kondisi ekonomi keluarganya yang serba kekurangan, secara alamiah Iwan ingin mengubah kehidupan keluarganya. Contoh kecilnya, Iwan ingin memiliki kamar sendiri. Keinginan Iwan ini karena memang di rumahnya tidak ada kamar yang bisa Ia tempati. Hanya ada 2 kamar yang harus dibagi untuk 7 anggota keluarga. Sampai-sampai dia harus tidur di sebuah karpet coklat atau terkadang berpindah-pindah tempat tidur. “Ketika memasuki SMP, aku lebih sering tidur di ruang tamu, di depan TV, di atas karpet cokelat.” (Halaman: 9). Sampai Bapaknya membuatkan ranjang dari bambu agar Ia tak kedinginan tidur di luar. “ Karena aku sering batuk-batuk pada malam hari, Bapak membuatkan ranjang dari bambu.” (Halaman: 9). Secara analisis, pemikiran tokoh Iwan mengenai sebuah kamar yang diinginkannya memang wajar bagi anak seusianya. Tetapi menurutnya, meminta kamar sendiri itu tidak manusiawi. Karena Ia tahu kondisi keluarganya. “Namun meminta kamar sendiri pada saat itu bukan hanya permintaan yang sangat bodoh, tapi juga pertanyaan yang tak berhati.” (Halaman 8-9).
Ada hal yang membuat saya trenyuh ketika memaca penggalan novel ini, “Ibu selalu membuatkan kopi panas untukku. semuanyapun kembali nyaman kembali. Tak ada obat batuk, hanya kopi panas, hanya kehangatan dari Ibu. Aku pun berbaring di atas karpet cokelatku kembali.”. (Halaman: 9). Kenangan mengenai Ibu seperti inilah yang membuat Iwan kecil sangat dekat dengan Ibunya. Sampai kerinduan yang merajainya ketika Ia jauh dari Ibunya. “Kerinduanku sedikit terobati ketika mendengar suara Ibu di seberang sana, mendengar nasehat-nasehat sederhana, jujur, dan hangat.” (Halaman: 98). Penggalan novel ini menandakan bahwa kenangan masa kecil Iwan berpengaruh kepada kehidupannya setelah dewasa.
Selain itu, Id seorang Iwan terlihat ketika Ia termotivasi untuk meniru kakaknya. “Dia menjadi terkenal di SD karena rangking dan kemampuan matematikanya di atas rata-rata. Kepintaran dan kedekatannya dengan buku-buku pelajaran menjadi inspirasi buat kami. Kami ingin pintar seperti Mbak Isa.”. (Halaman: 38). Karena melihat tingkah kakaknya, secara tidak disadari, Iwan juga menyukai buku-buku pelajaran dan meraih prestasi sewaktu sekolah. “aku belajar dengan tekun, mungkin lebih dari teman-temanku. Aku lebih sering bangun pagi sekali dan belajat lebih lama. . .”. “Aku merasa “lepas” ketika selesai membaca buku pelajaran, ketika mendapat nilai terbaik, ketika bisa mengingat sesuatu yang aku pelajari. Buku adalah teman terdekatku dan aku selalu meminta yang terbaik, . . .”. (Halaman: 69). Begitu citanya Iwan kepada buku-buku pelajarannya, sampai Ia bertahan di rangking 3 besar sewaktu SD, dan memperoleh prestasi di SMP dan SMA.
Sedangkan superego adalah perwujudan wewenang ayah dan masyarakat untuk mengendalikan dan membatasi dengan keras keinginan-keinginan tanpa kendali dan tanpa pembatasan diri id. Yang dimaksud ayah dan masyarakat di sini adalah adanya tokoh yang mengendalikan keinginan yang timbul pada diri Id. dengan kata lain bisa dikatakan variable kontrol dalam cerita. Menurut saya, superego yang berperan dalam novel ini adalah anak laki-laki yang memakai seragam. Sebenarnya anak laki-laki berseragam ini adalah Iwan kecil yang dihadirkan oleh pengarang sebagai sarana cerita. Jadi anak laki-laki ini dijadikan objek yang memicu tokoh Aku dan pengarang menuliskan jalan cerita. Dalam novel ini, tokoh utama, yaitu Iwan selalu bercerita mengenai kehidupannya lewat percakapannya dengan anak laki-laki berseragam ini. “Melihat baju merah putih yang ia kenakan, kenangn pun melayang ke masa kecilku. Kubagikan cerita ini di sepanjang makan malam itu, seperti sebuah perkenalan. Tak banyak kenangan masa kecilku di Batu, Malang. Tak banyak warna-warni yang muncul. . . “ (Halaman: 8). Inilah mulainya kehidupan tokoh Aku diceritakan oleh pengarang dengan umpan anak laki-laki berbaju merah putih itu.  Anak laki-laki itu terus mengikuti kemanapaun Iwan berjalan. Dimanapun itu, sosok anak laki-laki ini selalu ada, dan seakan-akan dipaksa harus ada. Saya tertarik dengan cara bercerita pengarang yang tujuannya menceritakan perjalanan hidupnya sendiri, tetapi memakai umpan anak laki-laki ini. Tetapi, ketika di pertengahan novel, anak laki-laki ini pergi dari kehidupan tokoh Aku. “Mungkin aku harus pergi,”. (Halaman: 101). Kalimat ini terlontar dari anak laki-laki yang sudah akrab dengan tokoh Aku. Tetapi tak semudah itu Iwan melepaskan kepergian anak laki-laki tersebut. Selama beberapa hari kepergian anak laki-laki itu dapat dicegah oleh Iwan dengan menceritakan kenangan masa lalunya. Di salah satu perbincangan antara Iwan dan anak laki-laki tersebut, “Aku harus pergi setelah liburan ini, somewhere. Aku tak bisa selamanya bersamamu and please share few more stories here, in Venice, before I go,”. Kata anka laki-laki itu dengan mengejutkan. “no, no, you can not just leave me. Let me tell you a story here, now, in Venice, tentang kota-kota yang aku kunjungi selama masa kuliahku, but once again, you can’t leave me. Begini ceritanya.” (Halaman: 137). Dari percakapan ini, sampai seringnya Iwan menceritakan segala hal mengenai kehidupannya kepada anak laki-laki berseragam itu, sampai-sampai dengan cerita saja anak laki-laki itu mau menuruti perkataan Iwan untuk tinggal sebentar untuknya.secara psikologis, memang wajar, ketika seseorang mengakui keberadaan orang lain dan nyaman dengan orang tersebut, rasa penolakan untuk ditinggal itu sangat terasa. Dan apapun akan dilakukan. Sama seperti apa yang dilakukan Iwan kepada anak laki-laki berseragam merah putih tersebut.
Ego adalah penyeimbang antara dorongan kebebasan id dengan pengendalian dan pembatasan diri milik superego. Dalam kedudukannya sebagai penyeimbang, ego merupakan kepanjangan kesadaran pikiran. Kesadaran inilah yang mengendalikan kata-kata, tindakan-tindakan, dan pikiran-pikiran seseorang dalam menghadapi masyarakat (orang lain) sebagai sebuah dunia di luar dunia tokoh. Dari analisis novel ini, saya mengetahui bahwa superego yang ada dalam diri Iwan adalah keluarga. Kehadiran keluarga di tengah-tengah kondisi kehidupannya di luar negeri maupun sewaktu kuliahnya di Bogor, member semangat tersendiri bagi Iwan. Kesadaran pikiran Iwan akan peran keluarga dalam mebina sikap dan sifatnya inilah yang mengantarkan Iwan memasuki kesuksesan dalam hidupnya. Berangkat dari keinginannya untuk memiliki kamar tidur sendiri, Iwan meretas kehidupannya dari kaki Gunung Panderman ke kota New York yang penuh hingar bingar.  

Jumat, 07 Juni 2013

sepi begini

tuhan, sepi begini aku teringat-Mu. sebenarnya aku selalu mengingat-Mu. rasanya,,, aku ingin menusuk batang hidung orang yang telah membuat-mu mengembun. Tuhan, boleh tidak, aku gunakan jemari titipan-Mu untuk menyentuh kulit hamba-Mu yang itu? aku ingin menyentuhnya dengan kuku yang panjangnya 15 cm, hanya 15 cm, dan ku buat runcing ujungnya. agar Ia mampu merasakan sentuhanku dengan cepat. boleh tidak Tuhan?

Rabu, 05 Juni 2013

lalu aku. . .

yah, seperti itu,
malam ini, aku ingin mengetuk pintumu, bersalaman denganmu, lalu duduk disampingmu. aku akan tanya kabarmu, lalu aku akan merayumu-perlahan- aku akan semakin duduk mendekat padamu. dan aku sentuh jemarimu. aku merangkulmu, , dan tersenyum ke arahmu. lalu aku penggal kepalamu.

“DIA, PUTRI”



Sejak kakiku menendang kepala dukun beranak yang mengintip waktu aku lahir, Ibu sudah menitipkan nyawanya kepadaku. -sebentar, entah Ibu yang titip, atau justru aku yang menitipkan nyawa pada Ibuku? Entahlah. yang ku tahu, aku dan Ibu berbagi nyawa-. Nyawa yang kucumbui tiap malam, sampai peluh ini berwarna merah, merah yang memang selalu menyetubuhiku. Merah dari Ibu, dia dapatkan sewaktu mudanya. Dan ku balikkan dengan mudaku saat merah benar-benar mengoyak hidupku.
Tak salah jika bayi berlumuran darah yang menjejal kepala dukun beranak itu selalu mengecup bau kematian. Karena kematian datang bersama merah. Sejak matanya terlubangi dengan asmara, dia semakin buta –entah, tidak semakin jelas melihat, malah dia menutup mata untuk asmara-. Asmara?? Terlalu dini baginya. Ketika rok yang dia pakai di atas lutut, lidahnya menjulur kepada siapa saja yang menggenggam tangannya. Dewi asmara yang sudah bosan dengan apa yang di pundaknya, dia berbalik mengeryitkan dahi kepada arjuna yang lewat di depan matanya.
Arjuna?? Hah! Arjuna bagiku dan dia itu sama. Mataku dan dia sama! Wanita manapun yang melihat Arjuna akan meneteskan air liurnya seperti anjing yang melihat daging empuk di depan matanya. Aku? Tak ada gairah. Melongokpun aku tak mau. Setetes liurku tak mau jatuh karena melihat wajahnya. Karena sekali aku meliriknya, aku yakin dia akan terkapar di depanku!
Kabar yang tersebar ke pojok telinga manusia amoral mulai mengetuk gendang Arjuna. “Siapa yang berani berbalik badan dari tatapanku? SIAPA! Hanya wanita buta yang berani menendang mukaku!” nanar mata Arjuna mendengar namaku. “Dia Putri.”. 

Selasa, 04 Juni 2013

Buk:)



Buk, aku berjalan menggenggam jemarimu yang tak lagi hangat. Meraba kulitmu yang tak lagi mengerat. Kusela jarimu yang tak lagi mengikatku. Kulitmu pekat. Tak lagi menggoda kau, Buk.
Buk, bajumu lusuh. Terlalu terang pakaian yang kau sandang. Kulitmu tertarik gravitasi bumi. Hahaha Buk Buk. Seranggapun tak mau menyentuh pipimu yang kurasa itu tulang-bukan daging-
Buk, jalanmu gontai, arai. Kura-kura mengejar dengan tidurpun masih bisa menancap di garis kemenangan. Sedangkan kau?? Ah kau Buk. Tertidur saja berbantal kutu yang menghisap otakmu.
Tapi, Buk
Penggal saja bawah daguku sampai rusukku. Teruskan sampai lututku! Nyawaku ada di jemarimu yang kaku! Kuliti saja nafasku yang merambah, menyeret kematian untukmu. Telangkup tanganku memintamu tuk membunuhku.
Penyair sadismu diciumi serigala-yang katanya lagi kasmaran-. Maka bunuh aku dalam kasmarannya sebelum ku bunuhku. Buk, kulitmu yang menganga, menggodaku untuk menciumi kakimu. Kulitmu menundukkanku dan menitipkan nyawa di jemarimu.
Nyawaku ada di Ibuk!!!jangan dikembalikan!!!tetapkan digenggamanmu!!! Aku tak kan pernah memintanya Buk! Sudah kupintal kematianku sendiri, jadi tak usah keringatmu menyungai, menetesi jasadku. Karena nafasku kan bosan sendiri menyatu dengan ruhku. Beberapa kedipan setelah itu, ruh ku tak tahan dengan bakung yang menyeruak bu,,
Buk, anakmu mengigau. . . Buk, rajai tubuhku Buk. Buk, kematian tersenyum ke arahku!!! Buk, dalam satu kedipan kematian menyelinap bersama ruhmu Buk. Melambaikan tangan ke arahku Buk. Buk, aku menggigil di dekati serigala. Semakin terpuruk dan tertunduk mendapat senyum dari kematian.
Buk, aku ketakutan Buk. Lihat raut wajahku yang mengendus ruhmu. Sebenarnya tanyaku meminta nyawa yang kau rawat Buk. Tapi percaya, sudah tertambat nyawaku untuk mempercayaimu.
Buk, biar aku dulu yang membukakan pintu surga untukmu. Biar Tuhan tau, aku adalah anak dari pemilik kulit yang lusuh. Dan biar Tuhan tahu, serigala itu bersekongkol dengan kematian untuk menyeretku dari rambut yang dijambaknya sampai memutih ujung kakiku.
Buk, acuhkan jasadku dan aku kan memangkumu di surga nanti. Buk, aku teramat menyayangimu.
Buk,,, dingin sudah Buk -_- 

Poo Lintang

Buk, Poo yang sering kau panggil "Trinil"- panggilan R.A. Kartini- bermain dengan khayalannya:)