Sejak kakiku menendang kepala dukun
beranak yang mengintip waktu aku lahir, Ibu sudah menitipkan nyawanya kepadaku.
-sebentar, entah Ibu yang titip, atau justru aku yang menitipkan nyawa pada
Ibuku? Entahlah. yang ku tahu, aku dan Ibu berbagi nyawa-. Nyawa yang kucumbui
tiap malam, sampai peluh ini berwarna merah, merah yang memang selalu
menyetubuhiku. Merah dari Ibu, dia dapatkan sewaktu mudanya. Dan ku balikkan
dengan mudaku saat merah benar-benar mengoyak hidupku.
Tak salah jika bayi berlumuran
darah yang menjejal kepala dukun beranak itu selalu mengecup bau kematian. Karena
kematian datang bersama merah. Sejak matanya terlubangi dengan asmara, dia
semakin buta –entah, tidak semakin jelas melihat, malah dia menutup mata untuk
asmara-. Asmara?? Terlalu dini baginya. Ketika rok yang dia pakai di atas
lutut, lidahnya menjulur kepada siapa saja yang menggenggam tangannya. Dewi
asmara yang sudah bosan dengan apa yang di pundaknya, dia berbalik mengeryitkan
dahi kepada arjuna yang lewat di depan matanya.
Arjuna?? Hah! Arjuna bagiku dan dia
itu sama. Mataku dan dia sama! Wanita manapun yang melihat Arjuna akan
meneteskan air liurnya seperti anjing yang melihat daging empuk di depan
matanya. Aku? Tak ada gairah. Melongokpun aku tak mau. Setetes liurku tak mau
jatuh karena melihat wajahnya. Karena sekali aku meliriknya, aku yakin dia akan
terkapar di depanku!
Kabar yang tersebar ke pojok
telinga manusia amoral mulai mengetuk gendang Arjuna. “Siapa yang berani
berbalik badan dari tatapanku? SIAPA! Hanya wanita buta yang berani menendang
mukaku!” nanar mata Arjuna mendengar namaku. “Dia Putri.”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar