Rabu, 05 Juni 2013

“DIA, PUTRI”



Sejak kakiku menendang kepala dukun beranak yang mengintip waktu aku lahir, Ibu sudah menitipkan nyawanya kepadaku. -sebentar, entah Ibu yang titip, atau justru aku yang menitipkan nyawa pada Ibuku? Entahlah. yang ku tahu, aku dan Ibu berbagi nyawa-. Nyawa yang kucumbui tiap malam, sampai peluh ini berwarna merah, merah yang memang selalu menyetubuhiku. Merah dari Ibu, dia dapatkan sewaktu mudanya. Dan ku balikkan dengan mudaku saat merah benar-benar mengoyak hidupku.
Tak salah jika bayi berlumuran darah yang menjejal kepala dukun beranak itu selalu mengecup bau kematian. Karena kematian datang bersama merah. Sejak matanya terlubangi dengan asmara, dia semakin buta –entah, tidak semakin jelas melihat, malah dia menutup mata untuk asmara-. Asmara?? Terlalu dini baginya. Ketika rok yang dia pakai di atas lutut, lidahnya menjulur kepada siapa saja yang menggenggam tangannya. Dewi asmara yang sudah bosan dengan apa yang di pundaknya, dia berbalik mengeryitkan dahi kepada arjuna yang lewat di depan matanya.
Arjuna?? Hah! Arjuna bagiku dan dia itu sama. Mataku dan dia sama! Wanita manapun yang melihat Arjuna akan meneteskan air liurnya seperti anjing yang melihat daging empuk di depan matanya. Aku? Tak ada gairah. Melongokpun aku tak mau. Setetes liurku tak mau jatuh karena melihat wajahnya. Karena sekali aku meliriknya, aku yakin dia akan terkapar di depanku!
Kabar yang tersebar ke pojok telinga manusia amoral mulai mengetuk gendang Arjuna. “Siapa yang berani berbalik badan dari tatapanku? SIAPA! Hanya wanita buta yang berani menendang mukaku!” nanar mata Arjuna mendengar namaku. “Dia Putri.”. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar