Rabu, 12 Juni 2013

PROK!! "9 Summers 10 Autumns"


Prok!! novel 9 Summers 10 Autumns menyegarkan mata apresiator. Pendekatan karya sastra dalam novel ini berada pada psikoanalisa. Psikoanalisa menitik beratkan pada kondisi psikologi pengarang maupun tokoh-tokoh dalam novel karya sastra tersebut. Dalam kaitannya dengan novel ini, psikoanalisa berkaitan dengan pengarang yang juga menjdai tokoh utama. Karena novel ini merupakan novel otobiografi maka hal sedemikian rupa tidak menjadi hal yang aneh lagi. Bahkan terkesan lumrah jika pengarang menceritakan masa-masa yang menurut Ia berharga dan pantas untuk dibaca oleh penikmat karya sastra.
Id adalah dorongan alamiah jiwa manusia untuk berpikir dan bertindak apapun sesuai dengan kehendaknya sendiri, tanpa kendali dan tanpa keinginan untuk membatasi diri sendiri. Sumber utama id terletak dalam pikiran kanak-kanak. Interpretasi terhadap id dapat dikembalikan ke masa kanak-kanak tokoh.
Dan memang benar, dalam novel ini, dorongan alamiah yang dirasakan oleh Iwan bersumber dari kenangan masa kanak-kanaknya. Karena melihat kondisi ekonomi keluarganya yang serba kekurangan, secara alamiah Iwan ingin mengubah kehidupan keluarganya. Contoh kecilnya, Iwan ingin memiliki kamar sendiri. Keinginan Iwan ini karena memang di rumahnya tidak ada kamar yang bisa Ia tempati. Hanya ada 2 kamar yang harus dibagi untuk 7 anggota keluarga. Sampai-sampai dia harus tidur di sebuah karpet coklat atau terkadang berpindah-pindah tempat tidur. “Ketika memasuki SMP, aku lebih sering tidur di ruang tamu, di depan TV, di atas karpet cokelat.” (Halaman: 9). Sampai Bapaknya membuatkan ranjang dari bambu agar Ia tak kedinginan tidur di luar. “ Karena aku sering batuk-batuk pada malam hari, Bapak membuatkan ranjang dari bambu.” (Halaman: 9). Secara analisis, pemikiran tokoh Iwan mengenai sebuah kamar yang diinginkannya memang wajar bagi anak seusianya. Tetapi menurutnya, meminta kamar sendiri itu tidak manusiawi. Karena Ia tahu kondisi keluarganya. “Namun meminta kamar sendiri pada saat itu bukan hanya permintaan yang sangat bodoh, tapi juga pertanyaan yang tak berhati.” (Halaman 8-9).
Ada hal yang membuat saya trenyuh ketika memaca penggalan novel ini, “Ibu selalu membuatkan kopi panas untukku. semuanyapun kembali nyaman kembali. Tak ada obat batuk, hanya kopi panas, hanya kehangatan dari Ibu. Aku pun berbaring di atas karpet cokelatku kembali.”. (Halaman: 9). Kenangan mengenai Ibu seperti inilah yang membuat Iwan kecil sangat dekat dengan Ibunya. Sampai kerinduan yang merajainya ketika Ia jauh dari Ibunya. “Kerinduanku sedikit terobati ketika mendengar suara Ibu di seberang sana, mendengar nasehat-nasehat sederhana, jujur, dan hangat.” (Halaman: 98). Penggalan novel ini menandakan bahwa kenangan masa kecil Iwan berpengaruh kepada kehidupannya setelah dewasa.
Selain itu, Id seorang Iwan terlihat ketika Ia termotivasi untuk meniru kakaknya. “Dia menjadi terkenal di SD karena rangking dan kemampuan matematikanya di atas rata-rata. Kepintaran dan kedekatannya dengan buku-buku pelajaran menjadi inspirasi buat kami. Kami ingin pintar seperti Mbak Isa.”. (Halaman: 38). Karena melihat tingkah kakaknya, secara tidak disadari, Iwan juga menyukai buku-buku pelajaran dan meraih prestasi sewaktu sekolah. “aku belajar dengan tekun, mungkin lebih dari teman-temanku. Aku lebih sering bangun pagi sekali dan belajat lebih lama. . .”. “Aku merasa “lepas” ketika selesai membaca buku pelajaran, ketika mendapat nilai terbaik, ketika bisa mengingat sesuatu yang aku pelajari. Buku adalah teman terdekatku dan aku selalu meminta yang terbaik, . . .”. (Halaman: 69). Begitu citanya Iwan kepada buku-buku pelajarannya, sampai Ia bertahan di rangking 3 besar sewaktu SD, dan memperoleh prestasi di SMP dan SMA.
Sedangkan superego adalah perwujudan wewenang ayah dan masyarakat untuk mengendalikan dan membatasi dengan keras keinginan-keinginan tanpa kendali dan tanpa pembatasan diri id. Yang dimaksud ayah dan masyarakat di sini adalah adanya tokoh yang mengendalikan keinginan yang timbul pada diri Id. dengan kata lain bisa dikatakan variable kontrol dalam cerita. Menurut saya, superego yang berperan dalam novel ini adalah anak laki-laki yang memakai seragam. Sebenarnya anak laki-laki berseragam ini adalah Iwan kecil yang dihadirkan oleh pengarang sebagai sarana cerita. Jadi anak laki-laki ini dijadikan objek yang memicu tokoh Aku dan pengarang menuliskan jalan cerita. Dalam novel ini, tokoh utama, yaitu Iwan selalu bercerita mengenai kehidupannya lewat percakapannya dengan anak laki-laki berseragam ini. “Melihat baju merah putih yang ia kenakan, kenangn pun melayang ke masa kecilku. Kubagikan cerita ini di sepanjang makan malam itu, seperti sebuah perkenalan. Tak banyak kenangan masa kecilku di Batu, Malang. Tak banyak warna-warni yang muncul. . . “ (Halaman: 8). Inilah mulainya kehidupan tokoh Aku diceritakan oleh pengarang dengan umpan anak laki-laki berbaju merah putih itu.  Anak laki-laki itu terus mengikuti kemanapaun Iwan berjalan. Dimanapun itu, sosok anak laki-laki ini selalu ada, dan seakan-akan dipaksa harus ada. Saya tertarik dengan cara bercerita pengarang yang tujuannya menceritakan perjalanan hidupnya sendiri, tetapi memakai umpan anak laki-laki ini. Tetapi, ketika di pertengahan novel, anak laki-laki ini pergi dari kehidupan tokoh Aku. “Mungkin aku harus pergi,”. (Halaman: 101). Kalimat ini terlontar dari anak laki-laki yang sudah akrab dengan tokoh Aku. Tetapi tak semudah itu Iwan melepaskan kepergian anak laki-laki tersebut. Selama beberapa hari kepergian anak laki-laki itu dapat dicegah oleh Iwan dengan menceritakan kenangan masa lalunya. Di salah satu perbincangan antara Iwan dan anak laki-laki tersebut, “Aku harus pergi setelah liburan ini, somewhere. Aku tak bisa selamanya bersamamu and please share few more stories here, in Venice, before I go,”. Kata anka laki-laki itu dengan mengejutkan. “no, no, you can not just leave me. Let me tell you a story here, now, in Venice, tentang kota-kota yang aku kunjungi selama masa kuliahku, but once again, you can’t leave me. Begini ceritanya.” (Halaman: 137). Dari percakapan ini, sampai seringnya Iwan menceritakan segala hal mengenai kehidupannya kepada anak laki-laki berseragam itu, sampai-sampai dengan cerita saja anak laki-laki itu mau menuruti perkataan Iwan untuk tinggal sebentar untuknya.secara psikologis, memang wajar, ketika seseorang mengakui keberadaan orang lain dan nyaman dengan orang tersebut, rasa penolakan untuk ditinggal itu sangat terasa. Dan apapun akan dilakukan. Sama seperti apa yang dilakukan Iwan kepada anak laki-laki berseragam merah putih tersebut.
Ego adalah penyeimbang antara dorongan kebebasan id dengan pengendalian dan pembatasan diri milik superego. Dalam kedudukannya sebagai penyeimbang, ego merupakan kepanjangan kesadaran pikiran. Kesadaran inilah yang mengendalikan kata-kata, tindakan-tindakan, dan pikiran-pikiran seseorang dalam menghadapi masyarakat (orang lain) sebagai sebuah dunia di luar dunia tokoh. Dari analisis novel ini, saya mengetahui bahwa superego yang ada dalam diri Iwan adalah keluarga. Kehadiran keluarga di tengah-tengah kondisi kehidupannya di luar negeri maupun sewaktu kuliahnya di Bogor, member semangat tersendiri bagi Iwan. Kesadaran pikiran Iwan akan peran keluarga dalam mebina sikap dan sifatnya inilah yang mengantarkan Iwan memasuki kesuksesan dalam hidupnya. Berangkat dari keinginannya untuk memiliki kamar tidur sendiri, Iwan meretas kehidupannya dari kaki Gunung Panderman ke kota New York yang penuh hingar bingar.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar