Yong.
Kita bertemu mungkin karena kita harus pisah ya Yong?
Tapi jika kalau harus berpisah denganmu, sebenarnya aku pun tak mau. Mati saja
aku Yong, dan mungkin pembaringanku tak pernah kau temui lagi, yah karena
memang kamu tak mau menemuiku.
Yong. Sekitar 8 bulan yang lalu,
Kamu bersua denganku. Tanpa perkenalan. Aku hanya tau
namamu. –tapi kamu tak pernah tahu namaku- . berawal dari Koran, kita dekat.
Saat itu seperti teman yang lain, biasa, standard, gak ada “ngeh” juga antara
kita.
Tapi setelah dekat di dumay dan saling tukar angka,
kamu semakin mendekat dan aku tidak menolak.
Tahu, kenapa? Yah. Memang aku mendekat, tapi maaf,
sebagai sahabatmu.
Kamu tahu juga kenapa? Saat itu aku masih bersama
laki-laki lain. Laki-laki itu kumiliki hampir 2 tahun. Naas Yong, hubunganku
dengan dia kandas setelah permainan kita di tanjung.
Memang sebelum kita mulai permainan, huuuhhhfttt sudah
lelah aku cek-cok dengan dia. Taulah,, dikit-dikit “pokoknya kamu. Kamu kamu.”
Dan itu membosankan, terlebih nyakitin.
Yong, awal permainan kita kamu buka dengan pelukanmu
di depan topeng. Sempat aku berpikir, mungkin juga saat itu kamu memakai
topeng. Tapi tak tahulah, yang terlintas hanya “kesal”.
Kesal Yong. Kamu yang sudah kujanjikan jadi sahabat
baikku, tapi kamu punya perasaan lebih. Teramat lebih. Dan maaf, aku tidak
suka. Sampai kamu dengar sendiri jawabanku, “aku adalah orang yang pertama kali
keluar dari permainanmu,”
Yah, selama 6 bulan tak ada perempuan yang
menyetubuhimu, aku hadir dengan polosnya merangkulmu dari depan –tak seperti
perempuan pada umumnya yang merangkul dari samping rusukmu-. Selama itu pula
kamu kehausan tangan yang kau ciumi setiap malam.
Yong, lambaut laun,,dengan diamnya kamu, aku tak tahan
untuk menegurmu. Aku paham, kenapa diammu? Teramat paham, aku sudah
berkali-kali tahu tingkah laki-laki ketika aku keluar dari permainannya -23 itu
tidak sedikit- aku sekarang yang mendekatimu. Aku mendekat karena aku tak mau
melepas laki-laki sepertimu.melepas laki-laki yang merangkap sahabat sepertimu.
Jika ditanya, kita mulai permainan lagi itu kapan, aku
tidak tahu jawabannya. Yang ku tahu, saat aku membuka diri untukmu dengan
syarat, tidak ada hubungan diantara kita. Karena aku tahu, kamu tidak ingin
serius dalam perasaan ini, begitupun aku. Awalnya aku serius denganmu, tapi...
melihat sikapmu, cerminmu ku pakai. Aku juga bisa tidak serius denganmu.
–serius disini yang kumaksud, kita melangkah tatap mahar-
Yong, hati perempuan mana sih yang tidak luluh
mendapat perlakuan yang teramat manis dari seorang laki-laki yang begitu
memeluknya. Kamu tahu, ketika di ilalang kamu menciumi pipiku, kamulah
laki-laki pertama yang menciumnya. Bisa dikatakan, kamu mulai menelanjangiku
perlahan. Sama sekali aku tak berontak, karena yang kurasa bukan nafsu, tapi
sayangmu. Aku tahu sayangmu seperti apa untukku –itupun jika pikiranku benar,
jika tidak aku bisa bunuh diri lompat dari ubun-ubunmu sampai tengkukmu. Hanya
sejauh itu-
Dengan permainan kita yang lain, aku mulai meringkuk
di pelukanmu. Menciumimu sama seperti kamu menciumku. Memelukmu, seperti kamu
memelukku, merabamu seperti kamu menyentuh bibirku dengan tanganmu dan. . . Aku
menggerayangimu, -bahkan aku sempat berpikir “bodoh, hal bodoh yang kamu
lakukan ini adalah hal pertama yang kamu lakukan pada laki-laki”- aku polos.
Yong, jika kamu Tanya teori kepadaku, aku dengan lugas
dan cekatan akan menjawabnya. Tapi jika kamu menginginkan aku mepraktekkannya,
dahi berkenyit. “aku kalah dalam praktek.”, otakmu lebih bisa membungkam
mulutku.
Yong, saat kamu menciumku, saat itu otakku terbalik.
Warasku lenyap. Dan aku hanya bisa merintih-merintihku kenapa aku terima
perlakuanmu- kamu boleh Yong, boleh saja menciumiku, mataku, hidung, pipi,
dahi, dagu, tapi TIDAK UNTUK BIBIRKU Yong. Jika kamu Tanya mengapa, aku jawab
itu akar dari pisahnya kita nanti. Di pikiranku, ketika kamu mencium bibirku,
suatu saat kamu akan menciumi leherku, setelah itu kamu akan turun ke
sensitifku, dan berakhir pada pecahnya selaput daraku. Pecah, nanti darah tercecer
dan aku...hanya kau tinggal. –khayalku main sendiri Yong-
Aku pernah bicara ke kamu “jika kamu ingin lepas
dariku, itu mudah, teramat mudah. CIUM BIBIRKU, dan aku akan segera pergi.
tanpa kamu minta aku akan pergi.” begitulah, bibirku hanya untuk orang yang
membeliku dengan mahar.
Yong, kamu memelukku dengan erat, aku juga akan
memelukmu dengan erat. Kamu menggenggam tanganku, aku menyentuh sela jarimu.
Kamu mengulurku, aku akan melepasmu.
Kamu memperlakukan aku begitu manis, teramat manis,
sampai aku tak kenal dosa. Memang aku tak tahu warna dosa. Yong, nanti, ketika
bibirku kamu bungkam, kamu akan tahu, tubuhku sudah kau telanjangi, dan aku
akan pergi.
Sayang.-jika benar aku yakin, aku adalah perempuanmu,
maka aku tak akan menulis ini-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar