Hembusan
angin begitu kencang dimusim hujan, Guntur tak kalah saing untuk memeriahkan.
Hujan terkadang kasar, terkadang pula romantis. Kupu-kupu selalu bersedih
karena terus-terusan dipaksa untuk bersembunyi. Namun berbeda dengan cacing.
Saat hujan romantis, para cacing sedang asik melakukan tarian bridge dancenya. Kupu-kupu itu iri,
serasa ingin murka pada tuhan. Rasa murka itu hampir sama dengan apa yang
dirasakan oleh si merah. Ya, dialah si merah. Gadis dari budaya unggulan
nusantara. Tapi murka merah tidak dengan tuhan melainkan dengan seorang pria.
Kata orang pria itu tak rupawan, namun sangat pandai menjilat hati seorang
wanita. Kabar burung juga mengatakan bahwa korban wanitanya sudah hampir dua
puluh keatas, mungkin termasuk si merah. Memang seorang penjilat yang hebat.
Mungkin lidah hingga pangkalnya sudah tak bertulang.
Dengan
keadaan seperti ini, aku merasa beruntung. Karena si merah datang kepadaku
membawa kemurkaannya. Murkanya diceritakan padakau. Mungkin karena sakit hati,
dia selalu saja menyalahkan seorang pria. Dan aku hanya mebalasnya dengan
kata-kata “sabar nduk”. “iya je” dia membalasnya, ketika balasan itu melesat
pada telinga. Saat itu pula aku berpikir, benarkah dia suka pada pria penjilat
itu??? Tuhan!!! Dia begitu cantik, tapi sungguh benar ciptaanmu yang bernama
hati itu susah ditebak. Kedekatan yang tak sengaja ini sungguh sangat berarti.
Karena mempertemukan dua insan yang saling patah hati. Pelarian? Mungkin tidak,
ini adalah suratan dari tuhan.
Kedekatan
kita memang sebentar, tapi aneh, aku sudah merasa nyaman dengan si merah.
Hingga aku selalu terbayang oleh wajahnya, bagai hantu yang membuat trauma,
tidak, ini indah. Ornament matanya itu yang membuat dia indah, tanpanya serasa
sayur tanpa garam, serasa makan tanpa minum, serasa lauk tanpa nasi. Ya, memang
saat bertemu tanpa berornament dia memang terlihat ganjal di mata.
Ketika
aku duduk di joglo kampus. Joglo itu cukup, dengan dua puluh tiang dan atap
yang lebar. Depannya adalah kantin yang diatasnya ada perpusatakaan. Di kantin
itu aku melihat si merah. Dia sedang makan dengan teman-temannya. Sedang aku di
joglo, duduk ingin mengerjakan tugas. Saat aku serius dengan tugas kuliah yang
menjadi keseharianku. Tiba-tiba terlihat dari sedikit sudut ada rok yang
mendekat, lalu “je, kamu itu disapa diam saja….. hi….” Si merah marah. Dikira
aku menghiraukannya. Dia pergi seketika dan aku kebingungan. Jujur aku tak
mendengar dia menyapa. Haduh!!! Aku takut menjauh dariku, bagaimana tuhan!!!.
Jibril yang membantu dengan memberikan wahyu, menunjukan pikiran pada HP. Aku
ambil HP dalam saku lalu kukirimkan sebuah pesan yang berisi “nduk, maaf aku
tadi tidak dengar” dan dibalasnya dengan cepat yang isi pesannya berinti marah.
Sungguh ini hal yang paling tidak aku suka, membuat orang marah. Apalagi orang
ini adalah orang yang sat ini paling nyaman buatku.
Usaha
demi usaha dilancarkan. joke semakin
banyak aku lontarkan. Hingga membuatnya berkata “ je jangan membuatku tertawa”
ini adalah sinyal keberhasilan. Dan akhirnya dia tertawa, namun aku tak tau
tawanya secara nyata hanya sekedar lewat pesan dari HP. Jujur aku ingin melihat
tawa atau senyumnya meski sebentar. Keinginan itu membuatku berusaha untuk
menemuinya. Karena aku sadar, dia sekarang sudah bahagia denganku. Dan dua hari
kemudian aku menemuinya. Si merah berbaju merah, saat ini berada di depanku.
Ya, momentum ini yang aku tunggu-tunggu. Dan dia tersenyum kepadaku, dengan
berornament dia tersenyum. Tuhan!!! Inikah rasa meleleh dalam sebua perasaan,
Huft. Ornament itu memang sudah memperindahmu, tapi senyum itu jauh lebih
menyempurnakanmu. Si Merah
Untuk Si Merah
bukan saya,, dia'sang monolog'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar