Sabtu, 15 Juni 2013

Si Merah



Hembusan angin begitu kencang dimusim hujan, Guntur tak kalah saing untuk memeriahkan. Hujan terkadang kasar, terkadang pula romantis. Kupu-kupu selalu bersedih karena terus-terusan dipaksa untuk bersembunyi. Namun berbeda dengan cacing. Saat hujan romantis, para cacing sedang asik melakukan tarian bridge dancenya. Kupu-kupu itu iri, serasa ingin murka pada tuhan. Rasa murka itu hampir sama dengan apa yang dirasakan oleh si merah. Ya, dialah si merah. Gadis dari budaya unggulan nusantara. Tapi murka merah tidak dengan tuhan melainkan dengan seorang pria. Kata orang pria itu tak rupawan, namun sangat pandai menjilat hati seorang wanita. Kabar burung juga mengatakan bahwa korban wanitanya sudah hampir dua puluh keatas, mungkin termasuk si merah. Memang seorang penjilat yang hebat. Mungkin lidah hingga pangkalnya sudah tak bertulang.
Dengan keadaan seperti ini, aku merasa beruntung. Karena si merah datang kepadaku membawa kemurkaannya. Murkanya diceritakan padakau. Mungkin karena sakit hati, dia selalu saja menyalahkan seorang pria. Dan aku hanya mebalasnya dengan kata-kata “sabar nduk”. “iya je” dia membalasnya, ketika balasan itu melesat pada telinga. Saat itu pula aku berpikir, benarkah dia suka pada pria penjilat itu??? Tuhan!!! Dia begitu cantik, tapi sungguh benar ciptaanmu yang bernama hati itu susah ditebak. Kedekatan yang tak sengaja ini sungguh sangat berarti. Karena mempertemukan dua insan yang saling patah hati. Pelarian? Mungkin tidak, ini adalah suratan dari tuhan.
Kedekatan kita memang sebentar, tapi aneh, aku sudah merasa nyaman dengan si merah. Hingga aku selalu terbayang oleh wajahnya, bagai hantu yang membuat trauma, tidak, ini indah. Ornament matanya itu yang membuat dia indah, tanpanya serasa sayur tanpa garam, serasa makan tanpa minum, serasa lauk tanpa nasi. Ya, memang saat bertemu tanpa berornament dia memang terlihat ganjal di mata.
Ketika aku duduk di joglo kampus. Joglo itu cukup, dengan dua puluh tiang dan atap yang lebar. Depannya adalah kantin yang diatasnya ada perpusatakaan. Di kantin itu aku melihat si merah. Dia sedang makan dengan teman-temannya. Sedang aku di joglo, duduk ingin mengerjakan tugas. Saat aku serius dengan tugas kuliah yang menjadi keseharianku. Tiba-tiba terlihat dari sedikit sudut ada rok yang mendekat, lalu “je, kamu itu disapa diam saja….. hi….” Si merah marah. Dikira aku menghiraukannya. Dia pergi seketika dan aku kebingungan. Jujur aku tak mendengar dia menyapa. Haduh!!! Aku takut menjauh dariku, bagaimana tuhan!!!. Jibril yang membantu dengan memberikan wahyu, menunjukan pikiran pada HP. Aku ambil HP dalam saku lalu kukirimkan sebuah pesan yang berisi “nduk, maaf aku tadi tidak dengar” dan dibalasnya dengan cepat yang isi pesannya berinti marah. Sungguh ini hal yang paling tidak aku suka, membuat orang marah. Apalagi orang ini adalah orang yang sat ini paling nyaman buatku.
Usaha demi usaha dilancarkan. joke semakin banyak aku lontarkan. Hingga membuatnya berkata “ je jangan membuatku tertawa” ini adalah sinyal keberhasilan. Dan akhirnya dia tertawa, namun aku tak tau tawanya secara nyata hanya sekedar lewat pesan dari HP. Jujur aku ingin melihat tawa atau senyumnya meski sebentar. Keinginan itu membuatku berusaha untuk menemuinya. Karena aku sadar, dia sekarang sudah bahagia denganku. Dan dua hari kemudian aku menemuinya. Si merah berbaju merah, saat ini berada di depanku. Ya, momentum ini yang aku tunggu-tunggu. Dan dia tersenyum kepadaku, dengan berornament dia tersenyum. Tuhan!!! Inikah rasa meleleh dalam sebua perasaan, Huft. Ornament itu memang sudah memperindahmu, tapi senyum itu jauh lebih menyempurnakanmu. Si Merah
Untuk Si Merah

bukan saya,, dia'sang monolog'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar