Jumat, 21 Maret 2014

Saat saya Bangun Tidur

bising banget, denger anak-anak yang membahas "masalah" yang belum waktunya dibahas. sempat saya ingin tidur lagi, tapi otak sudah tidak mau "ngeplek" lagi. sempat kepala saya menunduk dengan raut wajah "memilukan" tapi saya kira sudah waktunya saya "bangun" dan mendengar.
diary depresi saya hari ini sepertinya sudah akan dimulai. permulaan ini dari hati saya sendiri sampai akhirnya menginginkan "hal" itu kembali kepada lagi. "mbuletisasi".. o iyaa,, sudahlah tidur lagi saja

Senin, 17 Maret 2014

Nama Ibukku



Siapa orang yang bersarung di sini yang tidak mengetahui siapa nama Ibukku. Siapa juga orang yang berkonde di sini yang tidak tahu konde Ibukku lebih besar dari konde mereka. Sudah barang pasti semua orang di sini tahu, Ibuk berparas ayu dan menyenangkan ini adalah Ibukku.
Lembayung yang kemarin siang itu aku lihat bersama Ibuk, pagi itu tadi sudah tidak berada di tempatnya. Mungkin ada yang menyianginya tanpa sepengetahuanku. Aku sudah geram menunggu lembayung itu, tetapi apa yang kutunggu tidak ada di depanku. Dengan wajah geramku, Ibuk tidak berhenti  tertawa di sampingku karena melihat wajahku yang berubah menjadi merah menyala.
“Bukan Tuhan namanya Nil, kalau Dia tidak memberi kita lembayung lain. Wong Ibuk bisa nyari di tempat lain juga.”
Ah, sudahlah, malas berdebat dengan Ibuk yang menanggapi semua hal dengan lelucon. Dengan tangan kosong aku kembali ke pematang sawah dan duduk berdampingan dengan Ibuk. Dalam dialogku dengannya, tidak sedetikpun Ibuk memasang wajah muram. Yang  aku lihat hanya bibir yang tertarik ke atas membentuk senyuman dan lekukan di pipinya yang tirus. Terkadang saya berpikir, kapan saya bisa membuat Ibuk jauh lebih terlihat gemuk. Pipinya yang tirus saat aku menciumnya ketika pulang, tubuhnya yang selalu mengeluarkan peluh saat aku butuh uang, matanya yang sudah sayu, dan lekuk tubuhnya yang kusentuh serasa tulang, semua itu yang Ibuk tunjukkan ke mataku.
Tidak pernah sekalipun Ibuk memberitahukan kepadaku tentang hal buruk yang dialaminya. Mungkin beliau ingin hidupku serasa menyenangkan seperti yang beliau ceritakan kepadaku. Tetapi dalam perbincanganku dengan beliau pagi itu, aku tahu apa yang beliau rasakan dalam seminggu ini.
Sampai beliau menangis dan matanya terpejam menahan air mata yang tidak beliau inginkan untuk keluar, aku baru tahu, Ibukku benar-benar menghilangkan tawanya kali ini. “Namanya orang Nil, kalau tidak jadi orang yang menyenangkan ya jadi orang yang paling memuakkan. Sama juga halnya, ada orang yang suka dengan kita dan ada juga orang yang tidak suka dengan tingkah kita.” Ibuk menghentikan perkataannya lantas mengusapkan ujung rok yang beliau kenakan untuk menghapus air matanya. Dengan ucapan itu saja sudah menyebabkan mata Ibuk sembab. Rasanya kelu mendengar Ibuk berucap seperti itu. Aku hanya bisa diam dan menunggu Ibuk meneruskan tangisannya.
Dalam tangisannya, Ibu hanya ingin melepaskan beban yang Ia rasakan dalam seminggu ini karena omongan tetangga yang menyakiti hatinya. “Ah, mungkin tetangga iri Buk, sudahlah” kataku dengan merajuk. Tapi Ibuk tidak memerdulikannya.
“hanya saja mungkin Tuhan ingin lihat seberapa kuatnya Ibuk punya anak seperti kamu Nil. Hahaha” masih saja Ibuk mencoba tertawa di depanku.
Perbincangan itu tidak Ibuk teruskan karena Ibuk terus saja mengalihkan perhatianku. Mungkin saja Ibuk tidak mau perbincangan pagi itu menjadi beban buatku.
Nama Ibukku sebagai nama yang menyenangkan, nama Ibukku yang memberi kesenangan bagiku, nama Ibukku yang membuat orang merasa senang, kini nama Ibukku tidak berarti menyenangkan seperti namanya dulu.
Aku tidak tahu apa yang ingin Ibuk sampaikan kepadaku. Hanya saja yang kutahu, Ibuk yang berusaha kuat di depanku adalah orang yang mengajari aku menutupi kelemahan dan memberi kekuatan kepada orang lain dengan menunjukkan bahwa kita dalam keadaan “baik-baik saja” tanpa berarti masalah membuat kita mati.
11 Maret 2014
Nama Ibukku memerah terjerembab di pematang saat kegagalan ada di sampingku, lantas nama Ibukku membangunkanku agar aku segera sadar “dunia tak seindah pagar besi di depan rumah”.



Rabu, 12 Maret 2014

Dialog Edanku dengan Dia


Dialog edan ku dengan dia. Waktu itu sama-sama melihat matahari menguning dari pucuk daun teh yang dilahap ulat gembuk. Aku duduk menekuk lutut (sangking takutnya). Lantas dia memegangi rokok di jari sebelah kirinya dan memamerkan asap yang membulat, keluar dari mulutnya (maunya aku dapat membungkus asap itu lantas aku bawa pulang, sebagai kenangan)
Sandya: Ediiiaaannnn!! Rokok tinggal sebatang aja sudah minta dibuang. Gimana jadinya kalau rokok sebungkus tidak mau dibakar?. Dunyo ingkang memayu. Aku tansah pingin kepethuk Wasesa.
Kala: Ngalengka masih jauuh San, habiskan dulu rokokmu itu. Patah begitupun kalau tidak kamu bakar ya tidak sampai di mulutmu. Aku itu yang memberi kesempatan buatmu selagi kamu bisa melihat kepulan asap rokokmu itu. Jadi berhenti ngomong saja, dan segera keluarkan asapnya.
Sandya geram. Lantas memicingkan matanya ke arahku. Itulah mata yang membuat mataku biru.
Kala: sudah atau belum? Kalau sudah, mari pergi dari tempat ini. Aku ingin melihatkan kepadamu bagaimana caranya aku sekarang duduk di sampingmu.
Sandya: Ah, sudahlah. Aku tidak butuh cerita konyolmu. Baru sehari saja kamu bersamaku, aku sudah muak mendengarkanmu. Dari tadi kamu mengajakku pergi, tetapi aku tidak mau. Karena aku tidak mau meninggalkan rokokku. Kasihan dia jika sendiri.
Kala: Halah San, untuk mati saja kamu sulit. Kemarin kamu punya hidup, inginmu mati. Dikasih mati, maumu hidup dengan rokok sialanmu itu. Lantas, Tuhan yang mana lagi yang ingin kamu permainkan? Dengarkan ocehanku saja, karena sakitnya sudah sampai tenggorokanmu. Duniamu sudah muak melihat kamu menjilati rokokmu, aku juga sudah tidak sabar melihatmu minta tolong di tempat barumu nanti. Aku hanya ingin mengambil bagianku yang masih ada di tubuhmu! Sudahlah ikut aku saja. Dan bermainlah dengan Tuhanmu nanti saat kamu benar-benar kubawa mati.
Sandya mengerang dengan menyimpan rokok di sakunya. Aku benar-benar ketakutan untuk bernafas. Benar-benar tak ingin mati seperti tekukan Kala yang ku lihat. Benar-benar gila Dunia Tuhan. Benar-benar gila.
Benar-benar gila si Kala. Selesaikan tugasmu sebelum aku benar-benar gila ketakutan karenamu. Dialog edanku dengan dia.
(Lintang)