Dialog edan ku dengan dia. Waktu itu sama-sama
melihat matahari menguning dari pucuk daun teh yang dilahap ulat gembuk. Aku
duduk menekuk lutut (sangking takutnya). Lantas dia memegangi rokok di jari
sebelah kirinya dan memamerkan asap yang membulat, keluar dari mulutnya (maunya
aku dapat membungkus asap itu lantas aku bawa pulang, sebagai kenangan)
Sandya: Ediiiaaannnn!! Rokok tinggal sebatang aja
sudah minta dibuang. Gimana jadinya kalau rokok sebungkus tidak mau dibakar?.
Dunyo ingkang memayu. Aku tansah pingin kepethuk Wasesa.
Kala: Ngalengka masih jauuh San, habiskan dulu
rokokmu itu. Patah begitupun kalau tidak kamu bakar ya tidak sampai di mulutmu.
Aku itu yang memberi kesempatan buatmu selagi kamu bisa melihat kepulan asap
rokokmu itu. Jadi berhenti ngomong saja, dan segera keluarkan asapnya.
Sandya geram. Lantas memicingkan matanya ke arahku.
Itulah mata yang membuat mataku biru.
Kala: sudah atau belum? Kalau sudah, mari pergi
dari tempat ini. Aku ingin melihatkan kepadamu bagaimana caranya aku sekarang
duduk di sampingmu.
Sandya: Ah, sudahlah. Aku tidak butuh cerita
konyolmu. Baru sehari saja kamu bersamaku, aku sudah muak mendengarkanmu. Dari
tadi kamu mengajakku pergi, tetapi aku tidak mau. Karena aku tidak mau
meninggalkan rokokku. Kasihan dia jika sendiri.
Kala: Halah San, untuk mati saja kamu sulit.
Kemarin kamu punya hidup, inginmu mati. Dikasih mati, maumu hidup dengan rokok
sialanmu itu. Lantas, Tuhan yang mana lagi yang ingin kamu permainkan?
Dengarkan ocehanku saja, karena sakitnya sudah sampai tenggorokanmu. Duniamu
sudah muak melihat kamu menjilati rokokmu, aku juga sudah tidak sabar melihatmu
minta tolong di tempat barumu nanti. Aku hanya ingin mengambil bagianku yang
masih ada di tubuhmu! Sudahlah ikut aku saja. Dan bermainlah dengan Tuhanmu
nanti saat kamu benar-benar kubawa mati.
Sandya mengerang dengan menyimpan rokok di sakunya.
Aku benar-benar ketakutan untuk bernafas. Benar-benar tak ingin mati seperti
tekukan Kala yang ku lihat. Benar-benar gila Dunia Tuhan. Benar-benar gila.
Benar-benar gila si Kala. Selesaikan tugasmu
sebelum aku benar-benar gila ketakutan karenamu. Dialog edanku dengan dia.
(Lintang)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar