Senin, 10 Februari 2014

Setelah 7 tahun



Saat berlalu di keremangan, ada punggung sebagai tempat merebahnya kepalaku yang beku saat aku benar-benar menginginkannya menjadi milikku. "Tidak pantas. Asalnya dia bertuhan, tapi kau masih saja menuhankan dia. Tidak pantas, dan silakan pergi saja." ada bisikan lain dari perempuan berkepang dua yang menemuiku tengah malam buta di pembaringan.

Belum lama aku mengenalnya. Dia lelakiku -anggap saja dia benar-benar menjadi lelakiku- yang belum lama kukenal. Kali pertama aku mengenalnya lewat lukisan. Potret diriku terpajang memayu di kamarnya. Itupun karena ada yang memergoki potret bisuku menempel di tembok kamarnya.
"Ini potretmu Dik, sayu melihat kupu-kupu yang duduk di jari manismu. Mataku tertancap di tembok kamarnya karena potretmu."
"Potretku? Darimana dia bisa melukisku Bang?"
Oh memang Jalang tak pernah menepi dari pikiranku.
***
. . . Bulir embun menyentuh tulang daun lembayung. Menetes, menunjam ke batu di bawah tangkup lembayung. 1 bulir terpecah menjadi anak bulir. Berpisah karena menjatuhkan diri di batu yang keras. Pipit ramai dengan paruh yang mencicit. Induk menyuapinya dengan lembut, menaruh ulat di paruhnya lalu menciumi paruh si bungsu. Kelak si bungsu akan menjadi induk pipit yang tangguh mencari ulat.
Mengamati pagi ini lewat kamar berukuran 3 x 4, membuatku cukup puas dengan suasana sepi sebagai kontemplasi kesendirianku. Bukan jalang yang kutemui kemarin lantas aku tidak memikirkannya.
Masih saja dia berlarian di otakku dan sesekali duduk tersenyum meminta aku sekadar untuk memangkunya. Segera saja dia kubuang ke tempat makanan pipit di seberang jendela kamarku.
Sudah tujuh tahun jendela ini melihat polahku yang kebingungan. Sama seperti sekarang ini. Masih saja lukisan jalang yang kudengar kemarin selalu jadi pikiranku.
Topi siapa yang berani menatapku saat aku benar-benar tidak tahu arah matanya.
Segera saja aku pergi dan mencari lukisan itu tanpa memikirkan si pemilik topi.
Sudah barang pasti jika aku mencari, sulit untuk kutemukan dalam kondisi tidak tahu arti lukisan dan jalan mana yang akan kulalui entahlah, bertemu dengan siapapun aku menunduk tanpa berani bertanya dimana lukisan itu berada.
Sampai pada sebuah rumah yang tidak berukuran besar, seperti rumah burung yang kulihat tadi pagi di samping jendela kamarku.
Depannya kursi seperti kursi taman berjajar melingkar. Berwarna coklat seperti warna kayu mengkilat. Di samping kursi itu ada sebuah pohon mangga yang dikelilingi oleh rumput taman yang lemut sekali ketika kakiku telanjang di atasnya.
Rumah bertembok putih tulang menghadapku. Aku tidak tahu rumah siapa itu. Entah, ini satu-satunya rumah yang kutahu menyimpan potretku.
Seorang laki-laki berkumis mengenakan baju rombeng, celana jeans berwarna coklat, memakai topi coklat yang berlumuran cat berwarna merah, putih, dan abu-abu menatap dengan menodongkan kuasnya ke arahku.
“masuk saja, apa yang akan kamu beli?”
Aku kenal suara itu.
Suara yang selama 4 bulan mengajariku apa kontemplasi sepi yang bisa kamu tulis. Berbulan-bulan aku dulu dijejali pemikiran sadis mengenai tanganku ketika menulis. Tidak bisa berontak, dan hanya menuruti apa yang dikatakannya. Itu saja sudah membuatku aman.
Buku adalah sumber utamanya untuk melukis. Katanya, tulisan di buku itu tak ubahnya garis-garis tebal dan tipis yang sengaja dibentuk agar orang lain membaca dan memahami apa yang mereka tulis. Lantas lukisan itu sebagai wujud estetis yang diciptakannya agar orang lain mau membaca bukunya dan tentu membeli lukisannya.
Aku teringat dia lagi. Yang sudah kulupakan begitu lama dan kukubur dalam-dalam lulangnya untuk selama-lamanya. Tapi dia hadir lagi dengan topi warna-warni dikepalanya.
Kumisnya masih tetap tebal.
Tangannya masih memegang kuas.
Aku masih hafal bagaimana tangan itu menggambar.
“iya, maaf aku datang lagi ke tempatmu ini.” Mataku belum bosan melihat salah satu potret seorang gadis yang diam dengan mata sayu menatap kupu di depannya. Umur gadis itu mungkin sekitar 18 tahun.
“Dengan keruduk yang dia pakai, aku melihat Tuhan ada di punggungnya”. Katanya memegang lukisan yang ia buat sendiri lantas menatapku. Tatapannya masih sama.
“Matanya masih sama, Tuhan masih ada di kelopaknya,”.
Bicaranya masih sama. Kangen sudah menyetubuhiku. Sudah lemas aku dirayunya. Sudah tidak kuat kakiku berdiri.
Aku terduduk. Tetap menatap lukisan yang ada di depanku.
“Saat berlalu di keremangan, ada punggung sebagai tempat merebahnya kepalaku yang beku saat aku benar-benar menginginkannya menjadi milikku. "Tidak pantas. Asalnya dia bertuhan, tapi kau masih saja menuhankan dia. Tidak pantas, dan silakan pergi saja." ada bisikan lain dari perempuan berkepang dua yang menemuiku tengah malam buta di pembaringan 4 bulan yang lalu.”/ dia melihatku lagi. Aku menunduk lagi.
Yang kurasakan masih 4 bulan kita tidak bertemu. Wajahmu masih sama saat aku berumur 18 tahun. Tatapanmu masih hangat seperti dulu.
Ternyata begini rupamu setelah 7 tahun kita tidak bertemu.


1 komentar:

  1. rada gak nyambung antar ceritanya.... atau emang q.ne seng gak paham... :o
    pas tengah2 agalk ilang

    BalasHapus