Rabu, 30 April 2014

Semua Tentang Menunggu Kematian

di depan saya tergeletak sesosok bangkai dengan wujud yang sama sekali tidak dapat saya lihat.
saya bilang kepada Ayah, "Yah, Ayah. Bangkainya cantik Yah. pita di kedua sisi kepalanya menggantung. seperti ususnya yang terburai, Yah. merah Yah. Boleh kubawa pulang? ku kira aku mulai menyukainya. kukira akau mau menemaninya. ku kira aku bersedia berlama-lama di sampingnya. dan ku kira aku akan selalu bersamanya, Yah. boleh tidak?"
hanya tersenyum. sejenak Ayah menepuk kedua pelupuk mataku. "Pandang orang lewat matanya. Jangan lewat mata kamu." (sedikit cuplikan drama kemarin)
entahlah, Ayah. biar semua tentang menunggui kematian, aku hanya berharap bersama dia. bersama bau busuk yang kuanggap kasturi. bersama merah darah yang kubilang merah pelangi, dan bersama getirnya yang ku bilang itu senyum manisnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar